Tampilkan postingan dengan label MILITER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MILITER. Tampilkan semua postingan

LOYALITAS Tanpa Batas Letnan Onoda, Tetap GERILYA 29 Tahun Setelah Jepang Kalah!

Posted by yusuf Kamis, 30 Maret 2017 0 komentar
Kisah Letnan Hiroo Onoda, seorang tentara Jepang pada masa Perang Dunia II bisa menjadi gambaran tingginya loyalitas seseorang terhadap apa yang diyakininya. Pria ini masih terus berjuang untuk negaranya hingga puluhan tahun setelah perang berakhir.

Keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia II tak hanya membawa kesengsaraan bagi negara yang dijajah, warga negeri matahari terbit sendiri juga merasakan derita. Warga sipil dilanda teror karena serangan udara yang mengancam sewaktu-waktu. Sementara anak-anak muda dikirim menjadi pasukan berani mati, nasib yang harus mereka terima demi kesetiaan kepada negara. Karena itulah, banyak warga Jepang yang merasa lega ketika Kaisar Hirohito akhirnya mengumumkan untuk menyerah.

Namun tak sedikit pula para prajurit yang merasa malu. Pasalnya mereka sudah diajarkan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. Lebih baik mati karena bunuh diri daripada tertangkap musuh. Ada pula yang terus bergerilya karena tak percaya, pemerintah yang memiliki harga diri tinggi akan mengumumkan penyerahan kepada musuh. Itulah yang dipikirkan Letnan dua Hiroo Onoda ketika dia mendengar berita tentang berakhirnya Perang Dunia II.

Onoda masih berumur 22 tahun ketika dikirim ke Pulau Lubang, Filipina pada bulan Desember tahun 1944. Onoda ditugaskan sebagai tentara intelijen. Ketika pasukan sekutu mendarat di Lubang, Onoda dan kelompoknya naik ke gunung dan terus berjuang sebagai gerilyawan. Mereka bertahan hidup dengan buah pisang dan kelapa yang didapat dari hutan. Kadang-kadang dengan mencuri sapi dari desa terdekat. Beberapa kali sempat melakukan serangan diam-diam.

Tak lama setelah perang berakhir, kelompok Onoda yang hanya tersisa empat orang menemukan selebaran yang dijatuhkan dari udara mengumumkan bahwa perang usai dan memerintahkan semua prajurit yang tersisa untuk menyerahkan diri. Onoda dan rekan-rekannya sepakat kalau ini adalah jebakan untuk memancing mereka keluar dari persembunyian. Jadi mereka terus bergerilya. 

Setelah lima tahun bersembunyi, Yuichi Akatsu, salah satu rekan Onoda memutuskan untuk menyerahkan diri kepada tentara Filipina. Setelahnya, sebuah tim pencari dibentuk untuk menemukan Onoda dan kedua rekannya. Surat, foto keluarga, dan pesan dari Akatsu dijatuhkan dari udara agar Onoda dan teman-temannya menyerah. Tetapi lagi-lagi mereka menganggap ini sebagai tipuan belaka.

Pada tahun 1954, Kopral Shimada tertembak dalam konflik senjata dengan prajurit di dalam grup pencari. Tinggal Onoda dan Kozuka yang masih terus bergerilya hingga sembilan belas tahun kemudian. Namun Kozuka pun tewas ditembak polisi Filipina setelah membakar lahan pada tahun 1972. Kini tinggal Onoda yang berjuang seorang diri. Kelihaiannya sebagai gerilyawan sudah melegenda di Lubang.

Akhirnya Norio Suzuki, seorang petualang dari Jepang yang menemukan Onoda. Pria ini memang bertekad membawa pulang prajurit setia itu ke negaranya. Suzuki berhasil melakukan pendekatan terhadap Onoda, bahkan bersahabat cukup dekat. Onoda pun akhirnya benar-benar percaya kalau perang sudah berakhir. Namun dia masih tetap ngotot bergerilya, hanya mau menyerahkan diri jika diperintahkan oleh komandannya. Suzuki pun kembali ke Jepang dan membawa Mayor Yoshimi Taniguchi, atasan Onoda yang kini sudah hidup tenang sebagai pengelola toko buku.

Dengan restu pemerintah, keduanya menjemput Onoda. Setelah Taniguchi membacakan surat perintah kaisar untuk menyerahkan diri, Onoda menangis sejadi-jadinya. Akhirnya pria berperawakan kecil itu menyerahkan pedang katana miliknya secara resmi kepada presiden Filipina, Ferdinand Marcos.

Hiroo Onoda kembali ke Jepang untuk kembali ke kehidupan warga sipil. Pemerintah memberinya penghargaan dan sejumlah uang, namun pemberian itu disumbangkannya ke kuil. Pada tahun 1975 dia hijrah ke Brasil untuk menjadi petani sekaligus menghindari perhatian media massa.

Onoda kembali ke Jepang pada tahun 1984 untuk mendirikan kamp pendidikan bagi anak-anak. Dia juga sempat mengunjungi Lubang di tahun 1996, menyumbangkan $ 10.000 untuk sekolah di sana. 


Letnan dua Hiroo Onoda meninggal pada tanggal 16 Januari tahun 2014 karena serangan jantung dan paru-paru basah. Sampai saat ini, dedikasinya yang luar biasa sebagai prajurit masih diingat publik. 

Sumber : merdeka.com

Baca Selengkapnya ....

Antara LUCU dan HARU.! Kisah KOPASSUS Tidak Pernah Merasakan Pesawat Mendarat!

Posted by yusuf Rabu, 29 Maret 2017 0 komentar
Soal kemampuan tempur, prajurit Kopassus tak diragukan lagi. Namun banyak kisah menarik dan lucu dari polosnya mereka.

Salah satunya soal naik pesawat dan landing alias mendarat. Ada seorang prajurit yang begitu bahagia saat bisa merasakan pesawat landing.

Kisah ini dituturkan Pelda Sumardi alias Mardi Rambo. Dia seorang prajurit Kopassus yang memiliki kemampuan zeni demolisi. Mardi Rambo ini sudah 14 kali diturunkan di medan operasi. Sebuah rekor karena biasanya rata-rata prajurit Kopassus merasakan turun empat kali di medan operasi.

Nah, suatu hari Pelda Sumardi ditugaskan ke Bosnia yang saat itu sedang mengalami konflik berdarah. Buat orang lain, ditugaskan ke Bosnia ibarat mimpi buruk. Namun buat Pelda Sumardi ibarat mendapat durian runtuh.

"Sueeneng sekali ke Bosnia. Pesawat itu take off kemudian landing. Ternyata landing itu wueenaak sekali," kata Pelda Sumardi.

Apa istimewanya landing? Bukankah pesawat yang take off pasti landing? Tunggu dulu, itu hanya berlaku untuk orang sipil.

Rupanya selama ini Pelda Sumardi hanya merasakan pesawat lepas landas. Begitu pesawat di udara, dia selalu 'dibuang' alias diterjunkan dengan pesawat. Pantas saja, pengalamannya 14 kali turun ke medan operasi. Karena itu Mardi Rambo bahagia karena merasakan pesawat landing untuk pertama kali. 

Kisah lucu polosnya anggota Kopassus ini bukan satu-satunya. Simak kisah-kisah lucu lainnya yang dimuat dalam buku Kopassus untuk Indonesia yang ditulis Iwan Santosa dan EA Natanegara dan diterbitkan R&W.

sumber

Baca Selengkapnya ....

Mengenal PASKHAS Sang Hantu UDARA. Satu-satunya Pasukan Elit Angkatan Udara di ASIA!

Posted by yusuf Selasa, 28 Maret 2017 0 komentar
Paskhas TNI-AU sebagai pasukan khusus Angkatan Udara satu-satunya dan berkualifikasi terlengkap di dunia ini memiliki berbagai kemampuan tempur khas matra udara seperti Pengendali Tempur (Dalpur), Pengendali Pangkalan (Dallan), SAR Tempur, Jumping Master, Pertahanan Pangkalan yang meliputi per tahanan horizontal (Hanhor) dan pertahanan vertikal (Hanver), Penangkis Serangan Udara, jungle warfare, Air Assault (Mobud), Raid operation hingga kemampuan anti teror aspek udara atau yang dikenal sebagai ATBARA (Anti Pem bajakan Udara). Selain itu Paskhas TNI-AU juga mahir untuk bertempur di hutan, perkotaan,laut maupun pantai. 

Paskhas TNI-AU juga memiliki kemampuan spesialisasi kematraudaraan untuk melaksanakan doktrin OP3UD (Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan), seperti pengaturan lalu-lintas udara, meteo, komunikasi-elektronika, perminyakan militer, zeni lapangan (termasuk pionir, tali-temali, dll), intelijen tempur, Kesehatan, ground handling, pemadam kebakaran, angkutan, perhubungan hingga kemampuan khusus untuk menginformasikan tentang fasilitas penerbangan sebelum pesawat datang, jarak pandang (visibility), kecepatan dan arah angin, suhu dan kelembaban udara, serta ketinggian dan jenis awan. 

Hal ini sangat berkaitan dalam menentukan penembakan sasaran mau pun penerjunan pasukan, dan membantu mengendalikan pesawat tempur untuk penembakan/ pengeboman sasaran (Ground Forward Air Control/GFAC) Tidak main-main, para personel Paskhas juga memiliki kemampuan khusus sebagai Air Traffic Controller (ATC) di sebuah bandara. Memang tidak ada satupun pasukan komando seperti Paskhas di dunia saat ini. 

Karena Paskhas merupakan pasukan komando, maka dalam melaksanakan operasi tempur, jumlah personel yang terlibat relatif sedikit digunakan apabila melaksanakan tugas rahasia/senyap/khusus akan melibatkan Satuan Bravo Paskhas dan Den Dalpur Paskhas. 

Operasi tempur yang memerlukan serangan besar-besaran maka melibatkan pasukan parako PPRC paskhas dan arhanud PSU paskhas serta batalyon bantuan tempur paskhas. 

SATUAN BRAVO '90/Anti Teror

Satuan Bravo 90 adalah pengembangan dari De tasemen Bravo 90 (disingkat Den Bravo- 90) adalah pasukan khusus anti teror Indonesia dengan ke mampuan khusus yang di ben tuk di lingkungan Korps Pasukan Khas TNI-AU pada 1990. Bra vo berarti yang ter baik. Konsep pembentukannya merujuk kepada pemikiran Jenderal Guilio Douchet: Lebih mudah dan lebih efektif meng hancurkan kekuatan udara lawan dengan cara menghancurkan pan kalan/ instalasi serta alutsis ta-nya di darat daripada harus ber tempur di udara. Moto: Catya Wihikan Awacyama Kapala artinya Setia, Terampil, Berhasil. 

PENGUKUHAN SATUAN BRAVO-90/AT 
Dikukuhkan pada 16 September 1999 oleh KSAU Marsekal Hanafie Asnan. Dalam melak sa nakan operasinya, Bravo dapat juga bergerak tanpa identitas. Bisa mencair di satuan-satuan Paskhas, atau seorang diri. Layaknya dunia intelijen Bukan main-main, Bravo-90 juga melengkapi personelnya de ngan beragam kualifikasi khusus tempur lanjut, mulai dari combat free fall, scuba diving, pendaki ser bu, teknik terjun HALO (High Altitude Low Ope ning) atau HAHO (High Altitude High Opening), para lanjut olahraga dan para lanjut tempur (PLT), dalpur trimedia (darat, laut, udara), selam, tembak kelas 1, komando lanjut serta mampu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dengan sarana multimedia. Pasukan elite ini juga kebagian jatah untuk berlatih menembak dengan menggunakan peluru tajam tiga kali lipat lebih banyak dari pasukan reguler lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk melatih ketepatan dan kecepatan mereka untuk bertindak dalam waktu sepersekian detik. 

Satuan Bravo '90 memiliki tiga detasemen 
1. Den 901/Intelijen 
2. Den 902/Aksi Khusus 
3. Den 903/Banniksus 

Semua detasemen mempunyai keahlian yang merata di bidang counter terrorism. Pasukan "inti" baret jingga ini juga kerap berlatih dengan Gultor Kopassus, Ko paska TNI-AL dan Den Jaka Marinir. Satuan Bravo saat ini sudah memiliki fasilitas pertempuran jarak dekat (CQB). Bahkan untuk latihan pembebasan sandera di pe sawat, Satuan Bravo langsung melaksanakannya di dalam pesawat milik TNI-AU maupun PT. DI. Satuan Bravo juga menjadi pasukan khusus pertama di Indonesia yang mampu menguasai ilmu bela diri Systema yang merupakan ciri khas dari pasukan elite Rusia.

Oleh Selamat Ginting

Baca Selengkapnya ....

Latihan Dopper Disebut EKSTRIM oleh Media Asing. Marinir : Ada yang Lebih BAHAYA!

Posted by yusuf Minggu, 26 Maret 2017 0 komentar
Daily Mail menyebut latihan dopper TNI menggunakan peluru tajam sebagai salah satu aksi ekstrem. Ternyata, bagi Korps Marinir Angkatan Laut, itu hanyalah latihan biasa. Ada latihan lain yang lebih berbahaya.

"Di kita itu jadi kegiatan rutin yang harus dilaksanakan dalam membina kemampuan prajurit. Jadi bisa dibilang hal biasa. Itu latihan dasar kalau untuk komando," terang Kadispen Korps Marinir Letkol Marinir Suwandi, saat dikonfirmasi detikcom.

Menurut Suwandi, Marinir ada latihan lain yang lebih ekstrem. Misalnya latihan pendaratan khusus di laut, sebab harus berhadapan dengan alam. Lalu, latihan menembak di laut dan pantai. Ada juga yang ditembaki pelatih dari perahu karet atau dari pantai.

"Ya memang dopper cukup bahaya, tapi ada materi lain yang nggak kalah menantang dan berbahayanya dari dopper," bebernya.

"Jadi latihan menembak atau ditembaki di air. Karena Marinir itu medianya laut dan darat. Semacam dopper tapi di laut atau rawa," sambungnya.

Bagi Marinir, dopper itu adalah latihan dasar dalam suatu aplikasi pertempuran. Nantinya, aplikasi tersebut bisa dikembangkan bermacam-macam. "Jadi dopper dasarnya, jadi untuk bisa menghadapi di segala medan," imbuhnya.

Apakah Marinir pernah latihan dopper dengan pasukan asing? 

"Nggak pernah. Mereka tahu ya seharusnya (soal latihan dopper prajurit Indonesia). Kalau latihan dengan negara lain ada, tapi materinya bukan itu. Latihan bersama biasanya patroli, operasi amfibi," jawabnya.

sumber : news.detik.com


Baca Selengkapnya ....

SUPER HEROIK.! Ketika Tentara Republik Memporak-porandakan Konvoi Tentara Inggris!

Posted by yusuf Sabtu, 25 Maret 2017 0 komentar
PANSER Daimler Dingo tua di punggung bukit Cicurug-Sukabumi seperti kesepian. Sendiri, membisu. Sementara di bawah bukit, orang dan kendaraan hilir-mudik melintas di Jalan Raya Siliwangi Sukabumi.

Di tempat panser itu dan sekitarnya pernah pecah Pertempuran Bojong Kokosan pada pengujung 1945. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan penduduk Sukabumi menyergap konvoi pasukan Inggris (Sekutu) yang hendak ke Bandung via Sukabumi.

Inggris bertugas melucuti dan merepatriasi tentara Jepang, membebaskan dan melindungi tawanan Sekutu, serta memelihara hukum serta ketertiban. Namun, Inggris datang bersama pasukan Belanda dan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) yang berambisi menjajah kembali Indonesia. Menurut A.E. Kawilarang dalam Untuk Sang Merah Putih, Belanda memprovokasi Inggris bahwa TKR merupakan pasukan liar, ekstremis. Konflik dengan TKR pun tak terhindarkan.

Pada 21 November 1945, Resimen 5 di bawah Moeffreni Moe’min membajak keretapi logistik Inggris di Cikampek. Untuk menghindari kejadian itu terulang, Inggris mengalihkan suplai logistiknya ke Bandung melalui Bogor-Sukabumi. Panglima Komandemen I Jawa Barat Mayjen Didi Kartasasmita memerintahkan pasukan di bawah kekuasaannya, termasuk Resimen III Sukabumi, membantu misi Inggris.

Tapi situasi terlanjur panas. Pasukan Inggris juga seringkali bergerak sendiri tanpa koordinasi. Akibatnya, menurut Kawilarang, “pertempuran sering terjadi antara Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung, berupa penghadangan terhadap konvoi Sekutu yang dikawal dengan endaraan lapis baja dan tank.”

Letkol Eddie Sukardi, komandan Resimen III di Sukabumi, kesal dengan tindakan pasukan Inggris yang dianggapnya melecehkan wibawa TKR. Rencana penghadangan besar dibuat. Desa Bojong Kokosan dipilih menjadi titik penghadangan. Selain jalannya berkelok-kelok dan menanjak, kanan-kirinya bukit –cocok untuk penyergapan. Empat batalion dikerahkan menjaga masing-masing satu koridor yang totalnya mencapai 81 km.

Selain mengerahkan empat batalion, Eddie mengajak laskar-laskar dan penduduk. “Semuanya ikut berperang, termasuk ibu-ibu yang bawa alu. Apapun dijadikan senjata,” ujar Wawan Suwandi, sukarelawan Museum Palagan Bojong Kokosan yang juga anak pejuang pertempuran tersebut, kepadaHistoria.

Pada Minggu, 9 Desember, para pejuang bersiaga menunggu konvoi Sekutu. Guna menghambat laju konvoi, mereka menaruh pohon-pohon untuk barikade di tikungan “Talang Luhur” –kini sekira 200 meter dari museum.

Konvoi Inggris tiba di Bojong Kokosan pada siang hari. Di luar dugaan para Republiken, “konvoi itu terdiri dari 150 truk dengan pengawal dari Batalion 5/9 Jats dan tank,” tulis R.H.A. Saleh dalam Mari Bung, Rebut Kembali!”

Konvoi Inggris berhenti di tikungan “Talang Luhur” akibat barikade. “Ketika tank Sherman di depan sedang membersihkan barikade, konvoi yang sedang berhenti diserang pasukan TKR yang berada di bukit-bukit kiri-kanan jalan,” tulis Saleh. Banyak dari mereka menyerang dari lubang-lubang pertahanan di punggung bukit. Semua pejuang mulai dari Cicurug sampai Bojong Kokosan menyerang konvoi sepanjang sekira 12 km itu.

Pasukan Inggris kewalahan. “Pimpinan pasukan Jats sudah terluka berat pada awal serangan. Satu kendaraan terbakar, sejumlah lainnya rusak berat dan sejumlah pengemudi tertelungkup di atas kemudi, entah mati atau karena terkena luka tembak,” tulis A.J.F. Doulton dalam The Fighting Cock.

Pasukan Jats mati-matian melindungi konvoi. Balabantuan datang yaitu pesawat tempur RAF (Royal Air Force) dan Batalion 3/3 Gurkha Rifles. Di sisi lain, para pejuang kehabisan amunisi lalu mundur. Pasukan Inggris hanya bisa merayap untuk mencapai Sukabumi sembari terus bertahan. “Dalam keadaan pincang, konvoi memasuki Kota Sukabumi hampir tengah malam,” lanjut Doulton.

Meski jumlah korban tak diketahui pasti, Indonesia mencatat sebanyak 28 putra-putrinya gugur. Ke-28 nama itu diabadikan pada dinding di belakang Museum Palagan Bojong Kokosan.

sumber : historia.id

Baca Selengkapnya ....

MENGGELIKAN..! Kode Rahasia TNI Saat Operasi Timor Timur. Dari "Lontong" Sampai "Kampret"

Posted by yusuf Selasa, 21 Maret 2017 0 komentar
pesawat bronco, sumber : angkasa.co.id
Kampret berarti kelelawar. Namun di kalangan TNI AU, Kampret adalah sandi bagi pesawat tempur taktis OV-10F Bronco milik TNI AU yang melaksanakan Operasi Udara Tempur Taktis di Provinsi Timor Timur (Timtim) pada awal 1980-an.

Lazimnya dalam sebuah operasi militer, nama resmi Bronco yang arti sebenarnya adalah anak kuda, tidak digunakan. Dalam operasi ini Bronco dipanggil Kampret.

Hari itu di apron Lanud Bacau, Timtim para teknisi TNI AU tengah menyiapkan sebuah OV-10F. Kegiatan dilakukan menyusul laporan dari garis depan yang menyatakan bahwa gerilyawan Fretilin yang diberi sandi Celeng semakin meningkatkan kegiatannya di perbukitan untuk merampas logistik dan senjata ABRI.

Kapten Inf Prabowo Subianto dari unsur TNI AD terlihat berbincang dengan para perwira ABRI lainnya.

Sambil berjalan menuju pesawat, Kapten Soenyoto yang bertugas di Dinas Penerangan TNI AU, mendapat penjelasan dari penerbang OV-10F Kapten Pnb Yuni Purworiadi.

Ia menjelaskan bagaimana saya menjadi “penerbang” yang akan duduk di kursi belakang. Kampret memiliki dua kokpit tandem, di mana Soenyoto akan duduk mengikuti misi operasi. Penerbang itu menjelaskan pula bagaimana cara meninggalkan pesawat menggunakan kursi lontar (ejection procedure) bila dalam misi itu Bronco tertembak.

Sebagai personel Dispenau yang akan mendokumentasikan Operasi Tuntas di Timtim, Soenyoto membawa “senjata” berupa kamera video Panasonic berbobot empat kilogram dan sebuah kamera foto.

“Pasukan di darat sudah melihat Kampret belum?” tanya Kapten Yuni Purworiadi melalui radio kepada kompi-kompi tempur di darat saat pesawat mulai terbang menuju sasaran.

Hutan sangat lebat sehingga pemandangan dari dalam kokpit Bronco tertutup barisan pepohonan. Baik Kapten Yuni maupun Soenyoto tidak mampu melihat gerakan pasukan darat.

“Kami belum melihat Kampret, baru dengar suaranya saja,” jawab pasukan di darat.

OV-10F kembali berputar mengulangi rute awal dan menambah sedikit ketinggian terbang.

“Oke, kami sudah melihat Kampret, maju saja terus ke arah pohon besar di depan,” timpal pasukan darat.

Kampret saat itu terbang membawa Merica (sandi untuk peluru senapan mesin kaliber 7,62mm, Lontong (sandi untuk roket FFAR), dan Nangka (sandi untuk dua bom di bawah sayap).

“Di mana Celeng-nya?” tanya pilot yang kemudian dijawab pasukan darat mereka berada di bawah pohon besar di depan.

“Oke, sekarang saya sudah melihatnya,” lanjut Kapten Yuni.

Para Celeng bergerak dalam kelompok kecil dua-tiga orang. Mereka biasanya menyerang dengan tiba-tiba dan setelah itu lari. Gerakan mereka cepat karena sudah menguasai medan.

Fisik mereka juga sangat kuat. Tanpa mengenakan sepatu mereka bisa bergerak cepat di medan berbatu tajam. Untuk menghambat gerak Celeng, pasukan darat memagarinya dengan teknik pagar betis dibantu operasi udara taktis seperti yang sedang dilakukan si Kampret ini.

Setelah jarak Bronco terhadap pohon besar sudah dekat, OV-10F kemudian terbang menukik disusul ucapan Kapten Yuni, “Ini saya kirimkan Merica untuk Celeng-celeng itu. Laporkan hasilnya!”

Sambil terus menukik OV-10F memberondongkan senapan mesin satu rentetan. Setelah itu pilot melakukan pull-up 60 derajat secara tiba-tiba. Kamera video yang dipegang Soenyoto pada saat pull-up bertambah menjadi 20 kg. ini terjadi karena tekanan gravitasi sekitar %G mengakibatkan bertambahnya beban lima kali lipat.

“Kampret, bagus sekali. Terus lakukan seperti itu sampai Celeng kocar-kacir,” teriak pasukan darat.

OV-10F pun mengulangi lagi lintasan penerbangan seperti penembakan pertama. “Oke, ini Merica lagi, lebih banyak,” kata pilot. Setelah itu terdengar lagi rentetan tembakan yang lebih panjang ke arah pohon besar di bawah.

Pada lintasan Kampret yang ketiga Kapten Yuni memberi aba-aba lagi kepada pasukan darat. “Sekarang saya kirimkan Lontong.” Setelah itu pesawat menukik lagi dan terlihat dari sayap kiri dan kanan roket FFAR melesat dengan suara mendesis.

Dua roket mengarah ke pohon besar di arah depan dan setelah itu hilang dari pandangan karena Kampret melakukan pull-up.

Terdengar di radio pesawat suara sorak sorai pasukan darat yang tentunya menyaksikan bagaimana para Celeng kocar-kacir karena dilempari Lontong

“Pusing ya Pak Nyoto? Kalau mau muntah, muntah saja, kan bawa kantong plastik,” Yuni memberi instruksi kepada Soenyoto yang merasa lemas.

“Baguslah kalau tidak pusing. Kita lanjutkan lagi satu lintasan untuk mengirim Nangka,” kata Kapten Yuni.

Di lintasan ketujuh yang menjadi lintasan terakhir sebelum kembali ke Lanud Baucau, Kampret mengirim dua Nangka ke sasaran.

Bom seberat 250 kg itu sebagai salam perpisahan kepada para Celeng. “Saya kirimkan dua Nangka. Awas jangan dekat-dekat pohon besar itu,” ujar Kapten Yuni kepada pasukan di darat.

Kampret menukik lagi dan melepaskan dua bom 250 kg dari sayap kiri dan kanan. Setelah itu Kampret melakukan pull-up dan terdengar suara gemuruh ledakan bom.

“OK, Kampret pulang. Tolong laporkan hasilnya,” pinta Yuni kepada pasukan darat.

Tak lama berselang kami pun mendarat di Lanud Baucau. Saat kanopi pesawat dibuka, pertanyaan pertama para teknisi kepada Soenyoto adalah soal muntah.

“Muntah tidak?” tanya mereka tak sabar. “Oh, tidak. Biasa saja,” jawab Soenyoto dengan sedikit menyombongkan diri.

Namun, ketika para teknisi meminta Soenyoto untuk turun dari pesawat, ternyata Soenyoto tak bisa mengangkat kedua kaki untuk berdiri akibat dengkul terasa lemas sekali.

“Aduh, tunggu sebentar ya. Kaki masih lemas nih tidak bisa diangkat karena tujuh kali pull-up,” ujarnya.

Author: Kolonel (Pur) Soenyoto/Remigius S.

Sumber : angkasa

Baca Selengkapnya ....

Pertempuran Surabaya : Hanya Ada di Indonesia, 2 Jendral Tentara Inggris Tewas!

Posted by yusuf 0 komentar
Dalam suasana Revolusi Kemerdekaan Indonesia Perang 10 Novermber 1945 di Surabaya merupakan perang pertama Indonesia melawan pihak asing yaitu Tentara AFNEI khususnya Tentara Inggris setelah di kumandangkannya Proklamasi kemerdekaan indonesia pada 17 Agustus 1945 dan merupakan perjuangan paling berat dibandingkan dengan peperangan lainnya selama Revolusi perang kemerdekaan dengan perkiraan di Pihak Indonesia mengerahkan 20 Ribu tentara di tambah 100 Ribu sukarelawan melawan 30 Ribu Tentara Inggris yang di lengkapi dengan persenjataan modern, Tank, pesawat Tempur, dan Kapal Perang.pertempuran ini merupakan Mobilisasi Militer Inggris terbesar terhadap negara lain setelah berakhirnya perang dunia kedua.

Latar Belakang Peristiwa
   
Dalam suasana Perang Dunia kedua terdapat 2 kekuatan besar yang mendominasi dunia yaitu blok Poros (Jerman, Jepang, Italia dll) melawan Blok Sekutu yang terbagi lagi menjadi dua bagian yaitu Sekutu Barat (Amerika, Inggris, Perancis, Belanda dll) kemudian Sekutu Timur (Uni Soviet).Sebelum tahun 1944 Blok poros selalu mendominasi kemenangan atas blok lawannya termasuk jepang yang berhasil menguasai sebagian besar asia timur dan membentuk Asia Timur raya, dan sesudah tahun 1944 merupakan titik balik bagi blok poros dan banyak mendapatkan kekalahan dalam arena perang di tambah lagi tidak lama sebelumnya pada tahun 1943 di jungkalkannya Benito musholini yang merupakan Pimpinan Italia yang berkoalisi dengan Blok Poros oleh politisi dan militer senior dengan restu dari Raja karena atas kekalahn perang di Afrika dan Balkan .

Pada tahun 1945 Berlin yang merupakan Ibu Kota Negara Jerman berhasil dukuasai oleh Tentara Uni Soviet dan beberapa saat kemudian jerman menyerah kepada sekutu, tinggal lah satu lagi kekuatan blok sentral yang masih tersisa di asia yaitu Jepang, kekalahan demi kekalahan terus di alama jepang di perang pasifik melawan sekutu terutama yang palaing terkenal adalah kekalahan jepang di Iwo Jima hinggak akhirnya Kota Hirosima dan Nagasaki di jatuhi bom atom oleh tentara sekutu, beberapa hari setelah pemboman yaitu pada tanggal 15 Agustus 1945 Kaisar jepang Hirohito mengumumkan bahwa jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu dan tidak lagi berhak atas kuasa terhatap seluruh wilayah jajahannya yang dikuasai selama perang dunia 2.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Setelah mengetahui Jepang telah menyerah para pemuda mendesak agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada sangkut paut dengan jepang tapi para tokoh tua termasih Soekarno dan Hatta menolak dengan alasan tidak akan mendapat dukungan dari Jepang maupun yang lain, tapi para pemuda bersikukuh agar kemerdekaan Indonesia murni tanpa ada sangkut paut dengan jepang, kemudian para golongan muda menculik Sukarno dan Hatta ke Rengas Dengklok yang kita kenal dengan peristiwa Rengas Dengklok dan pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan di kawal oleh Anggota BKR yang merupakan para mandan Tentara Heiho, Peta dan KNIL Soekarno dan Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia.Selain itu di beberapa tempat termasuk di Surabaya Laskar-Laskar rakyat melucutu senjata tentara jepang sehingga banyak bentrok antara para laskar dan rakyat dengan tentara jepang, dengan demikian banyak di antara rakyat Indonesia yang memiliki senjata hasil rampasan dari tentara Jepang.

Kedatangan AFNEI (Allied Forces Nethrlands East Indies)

Ketika pelucutan senjata tentara jepang oleh Laskar Pejuang dan Rakyat sedang berlangsung pada tanggal 15 September 1945 dan 15 Oktober 1945 Pasukan AFNEI mendarat di Jakarta dan Surabaya, tugas pokok AFNEI adalah melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang Jepang, dan memulangkan para tentara jepang ke Negaranya, sebagai wakil tentara sekutu yang tergabung di dalam AFNEI di dalamnya terdapat Tentara Inggris, Tentara India, dan Tentara belanda yang berniat ingin mengembalikan kembali Indonesia kepada Belanda di bawah NICA (Netehrlands Indies Civil Administration), dengen demikin ketika Rakyat Indonesia mengetahui AFNEI membonceng tentara Belanda yang ingin mengembalikan kembali Indonesia kepada NICA maka terjadilah perlawanan Rakyat Indonesia dimana-mana, bentrokan-bentrokan sering terjadi antara Rakyat Indonesia termasuk di Surabaya yang mempunya senjata dari hasil rampasan tentara jepang dengan Tentara yang tergabung dalam AFNEI.

Terbunuhnya Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby

Pada tanggal 31 Agustus 1945 dikeluarkannya maklumat pemerintah Indonesia yang menetapkan pada tanggal 1 September 1945 bendera merah putih terus dikibarkan di seluruh pelosok Indonesia dan semakin lama pengibaran bendera ini semakin meluastermasuk di kota surabaya.Tanpa persetujuan Indonesia orang-orang belada di bawah pimpinan W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945 mengibarkan bendera belanda (Merah Putih Biru) di puncak tertinggi di Hotel Yamato atau hotel Orange, akibatnya besok hari ketika para pemuda melihat adanya bendera belanda yang dikibarkan dan langsung berkumpul di sekitar hotel Yamato atau hotel Oranye, negosiasi pihak ndonesia dengan orang belanda di dalam Hotel berakhir dengan terbunuhnya Ploegman di cekik oleh perwakilan indonesia yang bernama Sidik, kemudian sudik pun tewas tertembak oleh tentara belanda yang sedang berjaga sementara dua orang lainnya melarikan diri keluar hotel, dan puncaknya yerjadilah pemanjatan terhadap hotel Yamato dan perobekan warna biru bendera belanda kemudian bendera dinaikan kembali dengan warna Merah Putih.

Setelah peristiwa tersebut kemudian pada tanggal 27 Oktober 1945 terjadi peperangan-peperangan kecil antara Indonesia dengan tentara Inggris dan semakin lama semakin membesar dan menjadi Perperangan besar, untuk meredam ketegangan kemudian DC.Howthorn meminta Soekarno untuk meredam ketegangan, dan di sepakatilah gencatan senjata antara Indonesia dan tentara Inggris yang di tandatangani pada tanggal 29 Oktober 1945 dan keadaan berangsur-angsur mereda, tapi masih ada bentrokan-bentrokan kecil antara kedua belah pihak, bentrokan-bentrokan kecil tersebut memuncak setelah terbunuhnya Brigade Jenderal Aubertin Mallabay yang merupakan pimpinan Tentara Inggris untuk Jawa Timur, pada tanggal 30 Oktoner 1945 Mobil Buick yang di tumpangi Mallabay berpapasan dengan sekelompok milisi ndonesia di dekat Jembatan Merah, karena kesalahahaman terjadilah tembak menembak antara kedua belah pihak hingga akhirnya Mallabay tertembak dan Mobil yang di tungganginya meledak oleh ledakan geranat hingga ia terpanggang di dalam mobil.

Setelah Mallabay tewas pihak Inggris marah kepada Indonesia dan pengganti Mallabay yaitu Mayor Jenderal Eric Corden Robert Mansergh mengeluarkan Ultimatum agar seluruh rakyat Surabaya yang memiliki senjata agar menyerahkan senjatanya kepada Tentara Inggris di tempat yang telah di tentukan dengan mengangkat tangan waktunya adalah pagi hari jam 6.00 tanggal 10 November 1945 dan apabila Rakyat Surabaya tidak mematuhinya maka Surabaya akan di serang dari Darat, Laut dan Udara.Rakyat Indonesia khususnya Rakyat Surabaya menganggap Ultimatum ini adalah sebuah hinaan dari Tentara Inggris atas Indonesia karena epublik Indonesia pada saat itu telah berdiri, kemudian Ultimatum Tentara Inggris itu di jawab oleh tokoh dari Rakyat Surabaya berikut :

"....Selama banteng-banteng Indonesia mempunjai darah merah yang bisa membikin sedjarik kain wana poetih, tidak aken kita maou menjerah pada siapapun djuga...."

Pada pagi hari tanggal 10 November 1945 Pesawat-pesawat tempur Inggris mulai melancarkan serangan dengan membombardir kota surabaya dan pembombardiran di lancarakan dari laut dengan kapal-kapal perang Inggris kemudian di susul oleh 30 Ribu infantri bersenjata lengkap, perlawanan rakyat Surabaya terus menggelora meskipun banyak korban di pihak Indonesia, para Kyai dan ulama Jawa Timur termasuk KH.Hasyim Asy'ari dan KH.wahab hasbullah memerintahkan para saktri untuk ikut berjuang melawan Tentara Inggris tersebut, dan jangan lupa pada saat itu Rakyat Indonesia lebih patuh pada para Kyai, Ulama dan tokoh agama lainnya daripada kepada pemerintah.

Sebelumnya Tentara inggris mengira dapat menguasai seluruh Kota Surabaya selama 3 hari ternyata Inggris salah, perang terus berlanjut sampai berminggu minggu dengan perlawanan dari Rakyat Surabaya serta bantuan dari milisi-milisi dari wilayah lain, dalam suasana pertempuran yang hebat 3 Pesawat Tentara Inggris jenis  Musquito di tembak jatuh oleh para pejuang Indonesia dan salah satu pesawat membawa salah seorang Jenderal Inggris yang bernama Jenderal Robert Guy Loder Symon kemudian dia terluka parah dan tewas keesokan harinya.

Dua jenderal Inggris Tewas di Surabaya sementara pada perang dunia ke 2 di Eropa melawan Nazi jeman yang kekuatan Militernya beratus-ratus bahkan mungkin beribu-ribu kali lipat jika di bandingkan dengan para pejuang Indonesia yang hanya bermodalkan senjata utama dari hasil rampasan dari tentara Jepang, tidak ada satupun Jenderal Inggris yang tewas.Dengan melihat banyaknya korban jiwa dalam pertempuran yang hebat maka Pemerintah Republik Indonesia Menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan.

(sumber)

Baca Selengkapnya ....

Menilik KEHEBATAN Mobil Kepresidenan Jokowi. Dari Anti Peluru Sampai Anti Bom!

Posted by yusuf 0 komentar
Siapa sangka mobil supercanggih sekalipun bisa mogok. Bahkan mobil tersebut menjadi tunggangan seorang Presiden Joko Widodo.

Mobil kepresidenan Jokowi itu adalah Mercedes-Benz S600 Guard. Kata 'guard' disematkan pada tipe tersebut karena memang dilengkapi fitur pelindung yang mumpuni, yakni antipeluru.

Mobil yang ditunggangi Jokowi itu diketahui mogok saat dipakai dalam kunjungan kerja di Kalimantan Barat. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin. Bey mengatakan peristiwa mogok itu terjadi setelah Presiden Jokowi meresmikan PLTG Mempawah, Kalimantan Barat, pada Sabtu, 18 Maret 2017, dan hendak menuju kawasan Kubu Raya untuk makan siang.

"Iya, mogok di perjalanan setelah menempuh perjalanan lebih-kurang 30 menit. Mogok karena bermasalah pada setting-an gas, sehingga laju kendaraan tidak bisa dalam keadaan normal," kata Bey saat dimintai konfirmasi detikcom, Senin (20/3/2017).

Jokowi bersama Ibu Negara Iriana pun langsung dipindahkan ke mobil cadangan, yakni Toyota Alphard. Proses perpindahan tidak lama setelah terlebih dahulu ajudan memeriksa mobil tersebut.

Rupanya ini bukan pertama kali mobil tersebut mogok. Sebelumnya, saat Jokowi melakukan kunjungan kerja di Jawa Timur pada tahun lalu, mobil kepresidenan juga mogok.

Ketika itu, Jokowi selesai melakukan rangkaian kunjungan kerja di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Senin (19/9/2016). Jokowi kemudian hendak menuju Lanud Iswahyudi, yang terletak di Kabupaten Magetan. Rupanya, dalam perjalanan menuju lanud, mobil Jokowi mengalami kendala dan mogok.

Prosedur yang sama pun dilakukan, yakni memindahkan Jokowi dan Iriana ke mobil cadangan. Setelah itu, tampak Paspampres menjaga ketat mobil itu dan ada seorang anggotanya yang mendorong lewat pintu depan kanan.

Meski merupakan mobil canggih, yang dipakai Jokowi saat ini merupakan 'warisan' dari periode sebelumnya. Presiden Jokowi tak menganggarkan pembelian mobil dinas baru di awal pemerintahannya pada 2014.

Adapun mobil yang sekarang dia pakai merupakan buatan 2007. Menurut catatan detikcom, pengadaan mobil itu dilakukan pada 2008.

"Itu mobil 2007, dan itu termasuk kondisi baik karena pemeliharaan rutin dan reguler sesuai dengan log book, dan itu terdata dan servis bulanan, servis berkala," kata Kepala Sekretariat Presiden Darmansjah Djumala saat dimintai konfirmasi terpisah.

Mobil tersebut dibawa dari Jakarta ke lokasi kunker. Namun memang mobil kepresidenan tak hanya satu.

"Mobil presiden itu ada beberapa, yang bagus kita pakai. Yang dulu-dulu kita pakai karena pemeliharaan rutin bagus," kata Djumala.

Djumala menegaskan perawatan rutin terus dilakukan untuk mobil-mobil tersebut. Namun, karena 'faktor usia', ada detail kecil yang kurang prima.

Dia juga menyatakan kerusakan yang dialami oleh sedan hitam itu tak fatal. Hanya ada masalah akselerasi yang membuat mobil tak berlari, meski pedal gas sudah diinjak.

Wakil Presiden Jusuf Kalla kemudian turut berkomentar soal mogoknya mobil kepresidenan ini. Menurut JK, seharusnya mobil kepresidenan lebih baik.

"Tentu harus ada mobil yang lebih baik lagi. Memang ini sudah 10 tahun," ujar JK di kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Menurut JK, mesin mobil kepresidenan memang harus kuat. Selain itu, harus diservis dengan baik.

"Tentu pertama harus servisnya. Mobil kepresidenan itu, pertama, dia berat, harus kuat mesinnya. Kedua, servisnya harus baik karena kilometernya tidak banyak. Jadi jalannya itu tidak banyak," tutur JK.

Tentu saja ada pertimbangan tertentu mengapa mobil tersebut sudah beberapa kali mogok. detikcom pernah menulis spesifikasi mobil itu pada 2008.

Sekujur bodi dan kaca Mercy S600 Guard berlapis bahan antipeluru senapan serbu standar militer, bahkan sanggup melindungi penumpang dari serangan granat tangan. Fasilitas keselamatan lain adalah fitur run-flat tyre yang memungkinkan mobil bermesin biturbo 12 silinder itu ngebut meninggalkan lokasi konflik dalam kondisi ban kempis. 

Tangki bahan bakarnya yang antipeluru juga punya sistem pemadaman api, sehingga dia mampu mencegah ledakan.Untuk mobil yang ditumpangi Jokowi, diklaim berlapis baja dengan tingkat resistensi Eropa B6/B7, yang dapat menahan tiga tembakan senapan militer M60, M14, atau FAL-FN, serta tembakan senjata kecil seperi M16, dan 357 Magnum. Selain itu, juga memberikan perlindungan terhadap fragmen yang muncul dari ledakan. Adopsi perlindungan ini menggunakan VR9.

Seluruh kaca mobil ini dilapisi lapisan polikarbonat agar tidak pecah dan dapat melukai penumpangnya. Untuk fitur keamanan termasuk ban run-flat Michelin PAX 245-700 R470 AC, yang mampu membuat mobil tetap bisa berjalan sejauh 60 kilometer tanpa udara.

Selain itu, juga dilengkapi sistem pengaturan udara segar darurat, sistem kontrol pneumatik darurat untuk membuka jendela (beroperasi secara tersendiri dari sistem elektronik), serta Panic Alarm System tambahan. Tangki bahan bakar 90 liter dan sistem pemadam kebakaran otomatis yang mampu mengunci penyebaran api.

Selain itu, tersedia pula kamera belakang, kaca depan, dan jendela depan tahan panas, sistem adjutable doorhold yang digunakan di keempat pintu, serta tirai belakang listrik. Tentu hal yang sama seperti Cadillac One milik Obama yang menyediakan kamera night vision. Untuk kecepatan, S600 dapat melaju hingga 210 kilometer per jam dengan GVW 4.200 kilogram.

Untuk interior, dilengkapi perangkat night view assist system, guna memantau situasi di luar ketika kondisi jalan gelap. Berfungsi layaknya sonar infra merah, dengan kemampuan melihat objek saat cahaya di luar sangat terbatas.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat ini menggunakan mobil Mercedes-Benz S600L model W221. Hal ini mencerminkan Indonesia nampaknya tak terlepas dari besutan Mercedes-Benz.

Sudah hampir berpuluh-puluh tahun, mobil pabrikan asal Jerman itu menjadi pilihan kepala negara di Indonesia. Presiden Soeharto pun menggunakan Mercedes-Benz yakni jenis 500SEL.

Berbagai sumber yang dihimpun Harian Terbit, mobil kepresidenan Soeharto ditengarai memiliki teknologi keamanan sangat tinggi di era 1990-an. Bahkan, spesifikasi keamanannya setaraf dengan mobil Presiden Bill Clinton dan Ratu Elizabeth II.

Mercedes-Benz 500SEL tunggangan Soeharto memiliki tipe mesin M117.963 dilengkapi delapan silinder berkapasitas 5.0L. Kecepatan maksimumnya mencapai 220 kilometer per jam, lebih cepat dari Mercedes-Benz S600L yang digunakan Presiden SBY saat ini, yakni maksimum 210 kilometer per jam.

Soeharto yang notabene berasal dari militer ‘tulen’, memfasilitasi mobilnya dengan keamanan tingkat tinggi. Contohnya daya cengkeraman ban Michelin yang ditunjuk untuk membuat high safety wheels, yakni roda memiliki ketebalan beberapa inci antipeluru hingga ranjau darat.

Spesifikasi yang sama juga diterapkan Michelin untuk mobil yang dikendarai Presiden Rusia Boris Yeltsin. Sementara ketebalan kaca antipeluru yang disematkan setebal tiga inci, beda dua inci dengan mobil kepresidenan Jokowi saat ini.

Mobil Soeharto ini juga dilapisi baja dan platina hitam yang tahan terhadap serangan peluru, mortir, dan guncangan. Kini, mobil tersebut berada di Museum Mercedes-Benz di Stuttgart, Jerman, sejak 1998.

sumber : detik.com dan harianterbit.com

Baca Selengkapnya ....

Mengungkap Si Putih, Sosok MISTERIUS Penunjuk Jalan Jendral Besar SOEDIRMAN!

Posted by yusuf Minggu, 19 Maret 2017 0 komentar
Ilustrasi si Putih
KEBERHASILAN gerilya Jenderal Soedirman terletak pada kesediaan masyarakat membantu perjuangannya. Mereka menyediakan penginapan dan makanan, membuatkan tandu baru, memikul tandu, dan penunjuk jalan karena penduduk setempat lebih mengetahui arah jalan yang akan ditempuh.

“Menjadi kebiasaan rombongan itu untuk menggunakan tenaga-tenaga setempat sebagai penunjuk jalan,” tulis buku Soedirman Prajurit TNI Teladan.

Pada 24 Januari 1949 malam, Kapten Tjokropranolo, pengawal Soedirman, memutuskan jalan dari Desa Jambu menuju Warungbung. Penduduk setempat menyarankan agar paginya sudah harus berangkat ke tempat lain karena ternyata rombongan bergerek mendekati markas Belanda di Kasugihan, yang jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer. Tandu dibuat dan pemanggul disiapkan malam itu juga. Benar saja, setelah mereka sampai di Desa Gunungtukul pada 25 Januari 1949, deru kendaraan militer Belanda begitu dekat sehingga rombongan terus melanjutkan prejalanan.

Sewaktu hendak memotong jalan Ponorogo-Trenggalek pada 26 Januari 1949, Tjokropranolo seperti biasa mencari seorang penunjuk jalan. “Di daerah itu oleh penduduk setempat saya diperkenalkan kepada seorang penunjuk jalan bernama Putih (kemungkinan besar bukan nama sebenarnya, red),” kata Tjokropranolo dalam Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman, Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia.

Namun, menurut Soedirman Prajurit TNI Teladan, orang itu penduduk Desa Jambu di Trenggalek, yang menawarkan diri menjadi penunjuk jalan. Dengan tetap waspada, tawaran itu diterima dengan senang hati.

Mula-mula, Tjokropranolo merasa aneh mengapa justru si Putih yang berperawakan kecil, berkulit putih, berperangai lembut tapi gerakannya lincah, dipilih sebagai penunjuk jalan. Sedangkan di sekelilingnya banyak orang lain yang postur badannya besar dan kokoh. Rupanya, kata Tjokropranolo, tidak ada orang yang berani menjadi penunjuk jalan karena rombongan sudah dekat dengan pasukan Belanda. Tapi si Putih berani.

“Tanpa bertanya lagi saya terima saja si Putih sebagai penunjuk jalan. Dalam perjalanan dari desa Gunungtukul ke desa Ngideng, si Putihlah yang menjadi penunjuk jalan,” kata Tjokropranolo.

Dua hari dua malam si Putih berjalan. Sesampainya di Desa Ngideng, rombongan menginap di rumah seorang penduduk yang cukup berada. Mereka dilayani dengan baik. Rumahnya tidak jauh dari sungai yang cukup deras, sehingga mereka lebih senang mandi di sungai daripada di sumur.

Tjokropranolo curiga terhadap si Putih karena tidak mau mandi bersama-sama dan memilih mandi di tempat lain yang lebih jauh. Dia pun memerintahkan seorang anggota rombongan, Mustafa, mengikuti si Putih. Dia khawatir si Putih sudah tahu siapa yang ditandu dan melaporkannya kepada pasukan Belanda di Ponorogo.

Setelah mengamati si Putih, Mustafa dengan tertawa lebar melaporkan kepada Tjokropranolo bahwa si Putih adalah "seorang wanita yang bertabiat kelaki-lakian." Bisa saja, dia tomboy, namun Tjokropranolo menyebutnya waria. “Saya sendiri ngga ngira. Sifat-sifatnya persis laki-laki. Legalah hati saya, setelah mengetahui bahwa si Putih itu ternyata seorang waria. Dia tentunya akan selalu menghindar mandi bersama kita,” kata Tjokropranolo.

Kendati Tjokropranolo tidak mengira telah dituntun oleh seorang waria, namun dia mengakui peranannya. “Sungguh ngga ngira. Pokoknya kita selamat.”

sumber : historia.id

Baca Selengkapnya ....

Usman Harun Digantung, Marinir Siap Tenggelemkan Singapura ke Selat Malaka!

Posted by yusuf Sabtu, 18 Maret 2017 0 komentar
Sebagai bentuk penghormatan kepada prajurit yang berjasa bagi bangsa dan negara, TNI AL berniat menamai kapal perangnya dengan nama KRI Usman Harun. Sersan Dua Usman Janatin dan Kopral Harun Said merupakan anggota KKO (Korps Komando Operasi; kini disebut Marinir) yang tewas di tiang gantung Singapura.

Pemberian nama Usman Harun kepada kapal perang itu mendapat tentangan keras dari pemerintah Singapura. Kepada Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa , Menlu Singapura K Shanmugam mengajukan keberatan. Alasannya penamaan kapal perang tersebut akan melukai perasaan rakyat negeri jiran itu.

Usman dan Harun sendiri merupakan anggota satuan elite KKO yang ditugaskan mengebom pusat keramaian di Singapura pada 1965. Setelah tertangkap, keduanya kemudian dieksekusi dengan cara digantung pada 17 Oktober 1968.

Digantungnya dua prajurit KKO mengakibatkan aksi demonstrasi terjadi di mana-mana. Rakyat menuntut agar Presiden Soeharto menyatakan perang dengan Singapura.

Dalam buku 'Singapura Basis Israel Asia Tenggara', Rizki Ridyasmara menuliskan; "Kala itu bahkan terdengar suara bahwa KKO sudah siap menyerang Singapura dan dalam tempo dua jam sanggup menenggelamkan negara kecil tersebut ke dasar Selat Malaka".

Dalam buku setebal 212 halaman tersebut, Rizki menuliskan, ancaman KKO tersebut bukan gertakan semata. Saat itu, kekuatan armada perang Republik Indonesia warisan Presiden Soekarno sangat ditakuti di Asia Tenggara.

"Australia pun kecut untuk berbuat macam-macam dengan Indonesia. Soekarno telah mewariskan armada perang yang kuat kepada Soeharto", tulis Rizki dalam Bab IV: Moncong Meriam di Jidat Indonesia.

Namun sayang, Soeharto yang baru memimpin republik ini tidak berani menyatakan perang dengan negara yang luasnya tidak lebih dari dua kali Kabupaten Karawang itu. Oleh Soeharto , keduanya langsung diberi gelar pahlawan dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. 

sumber : merdeka.com

Baca Selengkapnya ....

MANTAP JIWA..! Tentara Indonesia Ladeni Serangan Tentara Amerika dengan MATA TERTUTUP!

Posted by yusuf 0 komentar
Indonesia dan Amerika Serikat menggarap kerja sama di bidang militer. Tentara Nasional Indonesia dan militer Amerika Serikat sudah beberapa kali latihan bersama.

Sejak 1995, Indonesia dan Amerik Serikat tercatat sudah 22 kali melakukan latihan militer bersama. Terakhir pada 2-8 Agustus 2016. Latihan bersama yang terakhir ini bersandi Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) 2016.

Latihan tahunan tersebut untuk meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat. CARAT ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan, antara AL Indonesia dan Amerika Serikat.

Dalam sebuah video yang diunggah ke Youtube, ada video latihan tentara Indonesia dan Amerika Serikat. Latihan dilakukan di sebuah lapangan. Saat latihan bertarung tentara Indonesia yang menghadapi tentara Amerika Serikat, matanya ditutup.

Saat latihan itu, tentara Amerika Serikat mengacungkan sebuah senjata tajam semacam cerulit, namun meski dengan mata tertutup tentara Indonesia mampu mengatasi serangan itu dengan sangat mudah.

Namun dalam video tersebut tidak dijelaskan, apakah latihan tersebut bagian dari latihan bersama yang bersandi CARAT itu atau bukan. Tetapi yang jelas CARAT ini merupakan acara latihan bersama yang dilakukan setiap tahun. 

ini videonya 



Baca Selengkapnya ....

Menilik Kekuatan Militer Malaysia vs Korea Utara. Bak Semut Melawan Gajah!

Posted by yusuf Jumat, 17 Maret 2017 0 komentar
Korea Utara terkenal akan senjata nuklir yang katanya dahsyat, jadi negara-negara lain nggak berani macam-macam. Apalagi pimpinannya, Kim Jong Un terkenal bengis dan diktator abis. Lengkap sudah kedigdayaan negara ini. Siapa yang berani macam-macam bakalan langsung dilibas.

Belakangan ini Kim Jong Un kehilangan seorang kakak angkat di Malaysia. Setelah diusut, kakak angkat Jong Un ini dibunuh oleh oknum yang belum diketahui siapa kepalanya. Pihak Malaysia pun nggak tinggal diam dan berusaha mengusut kasus ini. Namun, Kedubes Korea Utara untuk Malaysia berkata lain. Ia malah menuduh Malaysia lambat menangani kasus ini dan menuduh Malaysia bersekongkol dengan pembunuh Jong Nam. Waduh!

Atas kelakuannya dubes Korea Utara tersebut, Malaysia mendepaknya dengan status persona non grata. Nah lho, serem banget kan? Nggak mendoakan sih, tapi andaikan sampai terjadi adu kekuatan militer dua negara tersebut, kita reka-reka yuk kira-kira siapa yang bakalan jadi jawara dengan membandingkan kekuatan militer mereka.

Ranking Malaysia Terpaut Jauh dari Korea Utara

Perbandingan pertama kita lihat dari segi ranking yang ada di Global Fire Power. Menurut situs ini, Malaysia berada pada urutan ke-34 dari 126 negara yang tercatat di sana. Malaysia memiliki sekitar 30 juta lebih penduduk. Dari segi populasi mereka bolehlah jumawa, tapi untuk rangking Korea Utara berada pada urutan ke-25. Lumayan jauh berada di atas Malaysia. Padahal populasi Korea Utara hanya sekitar 25 juta jiwa saja.

Jumlah Personil Militer Aktif Malaysia Nggak Ada Apa-Apanya Dibanding Korea Utara

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, jumlah populasi Malaysia lebih besar dibanding Korea Utara. Hal tersebut juga dialami Malaysia pada jumlah kekuatan manusianya. Kekuatan manusia Malaysia berjumlah lebih besar daripada Korea Utara, yaitu 15 juta orang. Namun, soal masalah personil militer yang aktif, Korea Utara masih menjadi jawaranya. Negeri pimpinan Kim Jong Un ini memiliki jumlah personil militer aktif yang jumlahnya berada di atas Malaysia. Total personil militer aktif di Korea Utara adalah sebanyak 700 ribu orang, sedangkan Malaysia hanya memiliki jumlah 110 ribu orang saja.

Korea Utara Memiliki Kekuatan Udara yang Dahsyat

Masalah sumber daya manusia, bolehlah Malaysia yang lebih banyak. Namun, pemegang kekuatan tetap saja dipegang oleh Korea Utara. Lalu bagaimana kalau dilihat dari segi angkatan udara? Global Fire Power mencatat Korea Utara memiliki jumlah pesawat dengan total 944 buah. Malaysia? Koleksi pesawat Malaysia jauh berada di bawah Korea Utara, yaitu 227 buah. Jumlah armada angkasa Korea Utara meliputi helicopter sebanyak 202 buah dan pesawat tempur sebanyak 458 buah.

Kekuatan Darat Malaysia Digempur Korea Utara

Sekarang kita berbicara mengenai kekuatan darat kedua negara. Urusan kekuatan darat Korea Utara masih memegang posisi terkuat. Bahkan Malaysia bisa diganyang habis oleh Korea Utara. Global Fire Power mencatat, Korea Utara memiliki jumlah tank sebanyak 4.200 buah. Malaysia sendiri memiliki jumlah tank yang jumlahnya sangat amat jauh sekali dari Korea Utara. Frasa ‘sangat amat jauh sekali’ memang bener lho, karena Malaysia hanya memiliki jumlah tank sebanyak 74 buah saja.

Di Laut Korea Utara Juga Tetap Merajai

Untuk kekuatan laut, Korea Utara juga masih merajai. Jumlah kekuatan laut Korea Utara hampir berjumlah 1000 buah, tepatnya sebesar 967. Dengan kekuatan ini, tentu saja jika sampai terjadi peperangan gegara dubes Korut, dari segi kelautan Malaysia bisa tenggelam dengan mudah. Di segi angkatan laut pun, Malaysia terpaut jauh dengan Korea Utara. Malaysia hanya memiliki armada laut sebanyak 61 buah.

Melihat dari kekuatan militer Korea Utara dan Malaysia, sudah barang tentu dari segi kekuatan Korea Utara menjadi juara. Namun, apa yang ada pada statistik belum tentu terwujud di kenyataan. Terlebih lagi, kita berharap agar peperangan antar negara manapun tak terjadi.

Sumber : boombastis.com

Baca Selengkapnya ....

Operasi TRIKORA, Ketika Pasukan Elit Indonesia MEREBUS SEPATU demi Bertahan Hidup!

Posted by yusuf Kamis, 16 Maret 2017 0 komentar
Sesuai surat yang ditandatangani Panglima Mandala pada 11 April 1962, telah dikeluarkan Perintah Operasi penerjunan PGT (Pasukan Gerak Tjepat) dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat).

Kedua pasukan digabung di bawah satu komando untuk penerjunan pada 26 April di sebuah dropping zone di wilayah Fak-Fak dan Kaimana.

Penerjunan ini merupakan infiltrasi udara pertama yang akan dilakukan tentara Indonesia di wilayah Irian Barat dalam rangka Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat dari Belanda.

Pada saat Operasi Banteng Ketaton dilaksanakan menggunakan enam pesawat Dakota, pada pagi hari itu juga 26 April, diterbangkan pembom B-25 Mitchel dan dua pemburu P-51 Mustang sebagai pengawal

Seperti ditulis di buku 52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat(2014), penerbangan ini dilakukan untuk memantau keamanan jalur penerbangan sekaligus penipuan (deception flight).

Belanda tidak menduga Indonesia mampu melakukan infiltrasi melalui udara. Menurut mereka, rimba Irian Barat yang begitu rapat dan perawan, sangat tidak mungkin dijadikan pangkalan gerilya.

Dalam operasi penerjunan pertama ke wilayah Irian Barat, kepada penerjun diinstruksikan agar menyusup ke daerah lawan dan sedapat mungkin menghindari kontak senjata.

Tujuannya adalah untuk mengacaukan situasi dari dalam, sekaligus menarik perhatian Belanda agar tertuju ke wilayah daratan (tengah) sehingga pasukan kawan yang akan mendarat di pantai (daerah pinggir) dapat masuk lebih leluasa.

Di samping itu mereka mendapat tugas merusak radar di Kaimana. Untuk mendukung penyamaran di hutan, mereka mengenakan overall warna hijau tanpa pangkat. Setelah kejadian-kejadian ini, militer Belanda mulai guncang dan tidak yakin lagi atas pertahanan udaranya, karena dengan mudah bisa ditembus oleh Dakota.

Pagi hari, 15 April 1962, Kolonel Udara Wiriadinata didampingi Sersan mayor Udara (SMU) Picaulima dan KU I Atjim Sunahju, dipanggil Men/Pangau Laksamana Udara Omar Dhani. Dalam pertemuan itu Men/Pangau memberitahukan bahwa Picaulima bersama 18 anggota PGT akan diterjunkan di Irian Barat.

Keesokan harinya ke-19 anggota PGT ini sudah diterbangkan ke Ambon menggunakan Hercules. Di sana mereka diterima Wakil Panglima Mandala, Komodor Udara Leo Wattimena.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 25 April, ke-19 anggota PGT ini diterbangkan ke Lanud Amahai, dan di sana sudah ada anggota RPKAD.

Pagi itu sekitar pukul 10 waktu setempat, 25 April, flight C-47 Dakota yang terbang dari Kupang mendarat di Lanud Pattimura. Pesawat ini berangkat dari Lanud Halim sehari sebelumnya. Tak lama kemudian digelar briefing dipimpin Panglima Mandala Mayjen Soeharto didampingi Komodor Leo Wattimena.

Briefing yang berlangsung di Gedung Teknik Umum (gedung diesel) Lanud Pattimura itu dihadiri oleh pilot Dakota yang akan mendapat tugas menerjunkan pasukan PGT dan RPKAD di Fak-Fak dan Kaimana.

Sejumlah warga berusia lanjut di sekitar Lanud Pattimura yang pernah Angkasa temui, masih mengingat momen ini, saat Soeharto memberikan taklimatnya.

Dalam briefing siang itu dijelaskan bahwa tugas penerbang adalah menerjunkan pasukan ke daerah yang sudah ditentukan. Beberapa penerbang terlihat kaget, namun cepat menyesuaikan diri.

Pasukan yang akan diterjunkan di Kaimana diminta langsung menuju ke pesawat untuk diterbangkan ke Langgur dan istirahat sampai waktu yang ditentukan. Sebelum lepas landas dari Pattimura, Soeharto dan Leo memberikan ucapan selamat kepada pasukan yang dipimpin Lettu Inf Heru Sisnodo dari RPKAD.

Operasi dibagi atas dua penerbangan yang lepas landas dari Lanud Amahai, dengan pentahapan Operasi Banteng I (Banteng Putih) menerjunkan pasukan di Fak-Fak, dan Operasi Banteng II (Banteng Merah) di Kaimana.
Penerjunan di Fak-Fak dipimpin Letda Inf Agus Hernoto, sedangkan di Kaimana dipimpin Lettu Heru Sisnodo. Bersama mereka juga diikutkan anggota dari Zeni Angkatan Darat, yang akan bertugas merusak fasilitas radar Belanda di Kaimana.

Sambil menunggu perintah berangkat, pasukan memilih leyeh-leyeh di bawah sayap pesawat. Mereka berusaha tidur sekenanya untuk mengumpulkan tenaga.

Tiga pesawat Dakota yang dipimpin Mayor Udara YE Nayoan, Komandan Skadron 2 Transport, disiapkan untuk menerbangkan pasukan ke Fak-Fak. Lengkapnya operasi ini akan menerjunkan satu tim gabungan yang terdiri dari 10 prajurit PGT, 30 prajurit RPKAD ditambah dua orang Zeni. Tim ini dipimpin Letda Agus Hernoto.

Sewaktu lepas landas dari Laha, hujan turun deras. April hingga Juni memang musimnya penghujan di kawasan Indonesia Timur. Dropping dilaksanakan di tengah temaramnya subuh di sebelah utara Fak-Fak.

Ketika formasi pesawat dalam perjalanan pulang, terlihat di laut sebuah kapal yang lampunya berkelap-kelip. Setelah Dakota pada posisi sejajar dengan kapal, diketahui dengan jelas bahwa ternyata kapal dimaksud milik angkatan laut Belanda.

Lampu yang terlihat berkelap-kelip ternyata tembakan dari kapal ke Dakota. Formasi  Dakota langsung berbelok ke kanan dengan arah menjauh.

Setelah konsolidasi di pagi hari itu, rombongan PU II Pardjo yang diterjunkan di Fak-Fak ternyata selamat dan satu anggota dinyatakan hilang. Beberapa hari kemudian datang Marinir Belanda sehingga terjadi kontak senjata.

Sesuai instruksi sebelumnya, bila kekuatan tidak seimbang segera masuk hutan. Setelah keadaan tenang mereka menyusup kembali ke kampung tersebut dan ternyata sudah kosong. Rumah-rumah penduduk dibakar oleh Belanda dan penduduknya mengungsi entah kemana.

Sementara pasukan yang diterjunkan di Fak-Fak, sekitar satu bulan bertahan di sekitar kampung Urere, kemudian mendapat perintah meninggalkan kampung.

Dalam kondisi sudah lemah karena kekurangan makanan, pasukan berhenti sejenak di kebun pala untuk istirahat. Kemudian secara tiba-tiba diserang pasukan Belanda dari arah seberang sungai.

Dalam kontak senjata, lima anggota gugur yaitu KU I Adim Sunahyu, PU I Suwito, PU I Lestari, dua orang dari RPKAD yakni Sukani dan seorang lagi tak diketahui namanya. 

Komandan Peleton Letda Agus Hernoto tertembak di kedua kakinya dan ditawan Belanda.

Sedangkan PU II Pardjo, kaki kanannya tertembak namun dengan sisa tenaganya berusah menyelinap. Setelah Belanda pergi, Pardjo berusaha merangkak (karena tak sanggup berdiri) menuju tempat kelima temannya yang gugur. Dia hanya sanggup berdoa dan tetap bertahan hidup di situ sekitar lima hari di antara mayat teman-temannya yang mulai membusuk.

Sebuah kebetulan beberapa orang Papua lewat. Mungkin kasihan melihat Pardjo yang terluka, ia digotong dan dibawa ke kampung terdekat.

Setelah beberapa hari dirawat, digotong lagi bersama-sama menyusuri pantai menuju rumah sakit angkatan laut Belanda di Fak-Fak. Di sini ia memperoleh perawatan medis sebelum ditahan. Pada saat penahanan itu ia mendengar melalui radio Belanda bahwa telah terjadi gencatan senjata.

Setelah menjalani interogasi, ia dikirim dengan kapal laut ke Biak dan dari sana dibawa ke penjara di Pulau Wundi. Di sinilah akhirnya ia bertemu pasukan Resimen Pelopor, Kapten Kartawi dengan pasukannya, pasukan Peltu Nana, Serma Boy Tomas, Kapten Udara Djalaludin, Letnan Udara I Sukandar dan kru pesawat Dakota T-440.

 Operasi Banteng II
Penerjunan di Kaimana yang pertama terdiri dari tiga pesawat Dakota yang diterbangkan oleh Kapten Udara Santoso dengan kopilot LU II Siboen, LU I Suhardjo dengan LU II M Diran, dan LU I Nurman Munaf dengan LU I Suwarta.
Penerbangan ini dipimpin Kapten Santoso. Operasi ini menerjunkan satu tim gabungan PGT dan RPKAD (23 RPKAD, 9 PGT, dan satu perwira Zeni) di bawah pimpinan Letda Heru Sisnodo dan Letda Zipur Moertedjo sebagai pimpinan penghancur radar di Kaimana.

Setelah istirahat satu malam di Langgur, keesokan harinya 26 April 1962 pukul 04.45 waktu setempat, tiga Dakota lepas landas menuju sasaran di daerah Kaimana dengan terbang rendah dalam keadaan hujan.

Pada saat fajar menyingsing sekitar pukul 05.30, pesawat mendekati daerah sasaran sekitar l0 kilometer dari kota Kaimana yang terletak pada suatu lembah. Pertama-tama diterjunkan adalah logistik, baru kemudian satu per satu pasukan keluar dan mendarat di Kampung Urere.

KU II Godipun masih sempat melihat buih-buih berkejaran di pantai Kaimana sebelum bel tanda persiapan untuk terjun, memecah kesunyian subuh itu.

Karena masih gelap, umumnya tidak bisa menebak di mana akan jatuh. Yang terlihat hanya gundukkan hitam yang ternyata adalah hutan belantara dengan pepohonan menjulang tinggi bagaikan raksasa. Sampai di sini, malapetaka langsung menimpa mereka.

Hampir semuanya mendarat di puncak-puncak pohon yang tingginya sekitar 50 m. Situasi ini sedikit menguntungkan bagi yang membawa beban ekstra berat, seperti pembawa radio. Karena jika langsung mendarat di tanah, kemungkinan cedera sangat tinggi.

Dropping zone ini mereka ketahui sebagai wilayah Kampung Urere yang alias Pasir Putih. Karena jatuh di atas pohon, banyak di antara anggota mengalami cedera.

Seperti KU I Sahudi, payungnya berhenti di antara dua pohon sehingga ia tergantung-gantung seperti buah mangga. Tidak mau hilang akal, Sahudi berusaha mengulur tali yang dibawa agar bisa turun. Rupanya tali yang dibawa sepanjang 30 meter itu tidak menyentuh permukaan tanah.

Dia pun memutuskan menjatuhkan ransel perbekalan agar bisa mengira-ngira ketinggiannya. Cukup lama sebelum bunyi benda jatuh di tanah bisa didengarnya.

“Pohonnya tinggi sekali,” kenang Sahudi.

Hari sudah mulai siang dan badan pun mulai letih karena tidak makan. Tidak mau mati konyol di atas pohon, Sahudi mulai mengayunkan payung agar bisa meraih dahan terdekat. Berkali-kali ia coba namun sebanyak itu pula ia gagal. Tanpa disadarinya, karena terus bergoyang, payungnya mulai merosot dari pohon. Sampai akhirnya lepas dan Sahudi pun terpental ke pohon sebelum terhempas di tanah dengan punggung jatuh lebih dulu.

Ia merasakan sakit tak terperikan di punggung, membuatnya nyaris tidak bisa bergerak. Baru kemudian ia sadari bahwa tulang punggungnya patah!

Tak jauh dari tempatnya jatuh, ia melihat rekannya KU I J. Dompas yang terluka dan Pratu Margono dari RPKAD mengalami patah kaki. Mereka bermalam di situ selama beberapa hari, dan mendapat bantuan dari penduduk setempat.

Siang itu Belanda mulai mencium kehadiran pasukan gabungan. Gara-garanya setelah pesawat Belanda yang melintas, pilotnya melihat parasut bertaburan di puncak-puncak pohon.

Karena itu Belanda pun mengirim sejumlah polisi yang umumnya direkrut dari putra asli Irian untuk mengecek kebenarannya. Untunglah ada penduduk berbaik hati mengabarkan bahwa ada polisi datang.

“Tuan besar datang, tuan besar datang,” kata mereka. Malam itu juga Sahudi dan kedua rekannya meninggalkan kampung kecil itu. Karena sedang sakit, Margono hanya bisa merangkak, sementara Sahudi tertatih-tatih.

Seperti yang lainnya, Godipun juga tersangkut di sebuah dahan. Malang baginya karena ransel peluru dan granatnya lolos ke bawah. Menggunakan tali, Godipun mencoba turun ke bawah. Namun dahan tempatnya bergantung tiba-tiba patah, sehingga ia jatuh di pinggir kali berlumpur.

Untung lumpurnya cukup dalam, sehingga menjadi seperti matras. Hampir seluruh kakinya tertanam di lumpur. Setelah berhasil keluar, ia mendengar suara pluit di ketinggian, yang ketika dilihatnya berasal dari Sarjono.

Temannya ini tidak bisa turun karena sudah lemas. Oleh Godipun ditolong turun. Dia kembali naik karena ransel dan perbekalan temannya masih tersangkut di ranting.

Pada hari ketiga setelah bertemu teman-teman yang lain, yaitu Sahudi, KU I Fortianus, KU I Dompas, KU II Jhon Saleky, KU II Aipassa, dan tiga orang lagi yang namanya tidak diketahui.

Dua orang yang mengalami patah kaki, terpaksa dititipkan kepada penduduk di sekitar dropping zone. Keluarga ini awalnya menerima dan bersikap baik, namun ternyata mereka sudah dibina oleh Belanda. Sehingga kedua anggota yang patah kaki tadi diserahkan kepada Belanda.

Komandan tim Lettu Heru Sisnodo memutuskan, KU I Sahudi dan Pratu Margono yang tengah sakit parah ditinggal di tempat karena akan mengganggu gerakan pasukan.
Pasukan ini mengalami kontak senjata dengan Belanda sewaktu memotong sagu. Dalam kontak ini pasukan PGT tercerai-berai karena kekuatan tidak seimbang, disamping fisik mereka sudah lemah. Setelah tembakan berhenti, Heru memerintahkan Godipun membantu rekan-rekan yang lain.
“Saya pergi dan menemukan bekas tempat mereka memasak sagu,” ujar Godipun. Besoknya Belanda kembali datang, dan kembali terjadi kontak tembak, namun tidak ada yang terluka.

Dalam kontak tembak ini KU I Fortianus tertembak di dada dan tewas di tempat, sedangkan Pratu Suyono dari RPKAD berhasil meloloskan diri dan akhirnya bertemu dua orang yang ditinggal karena cedera yaitu KU I Sahudi dan Pratu Margono.

Pada 18 Juli, dua orang yang cedera ini ditambah Pratu Suyono tertangkap Polisi Belanda di bawah pimpinan Letnan Pol Ayal (asal Ambon) dan wakilnya Torar (asal Manado).
Pada suatu hari, Godipun disuruh menebang pohon pisang yang agak jauh dari induk pasukan. Begitu kembali, ia sudah tidak menemukan rekan-rekannya, pergi entah kemana.
Dia berusaha menyusul. Sial baginya, di perjalanan ia disergap Belanda. “Angkat tangan, lempar senjata!” Salah seorang berteriak ke arahnya. Godipun langsung tiarap dan merayap menjauh. Karena tidak kunjung keluar, tembakan gencar pun diarahkan ke persembunyiannya.

“Saya betul-betul disiram,” kenang Godipun. Sebuah timah panas akhirnya mendarat di pundaknya. Sakit sekali, sampai-sampai rasanya mau nangis. Pundak kirinya hancur dan tulang belikatnya mencelat keluar.

Nyaris sudah pasrah karena kondisinya cukup parah, Godipun masih berusaha untuk tidak tertangkap. Dia bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Belanda tidak berhasil menemukannya sampai akhirnya pergi. Tak lama kemudian, Godipun berusaha keluar. Rasanya, tangan kirinya sudah tidak ada, kalau pun masih ada sudah tidak bisa digerakkan. Sambil menahan sakit, Godipun terus berjalan sampai menemukan teman-temannya. Ia lalu mendapat pengobatan dari orang kesehatan RPKAD, Komaruddin.

Besok paginya Heru menawarkan Godipun untuk menyerahkan diri. Dipikirnya dengan menyerahkan diri, anak buahnya ini akan mendapatkan pengobatan dari dokter Belanda.

“Komandan, kalau saya mau menyerah sudah dari tadi, sumpah prajurit tidak boleh menyerah,” jawab Godipun tegas dengan nada tersinggung.

Penangkapan ketiga orang ini akibat ulah penduduk yang kelihatannya cukup baik, namun sebenarnya kaki tangan Belanda. Pasukan yang dapat lolos setelah kontak senjata dengan Belanda kemudian bergerilya dan bertahan dalam alam yang ganas selama tiga bulan.

Pasukan ini dibekali sejumlah mata uang gulden Papua. Cara mendekati sasaran dengan mengikuti jejak pasukan Belanda dan menggunakan penduduk setempat sebagai penunjuk jalan, tetapi apabila terjadi kontak senjata penduduk itu melarikan diri.

Dalam perjalanan terjadi beberapa kali kontak senjata. Yang gugur ditinggalkan dengan diberi tanda sedangkan senjatanya disembunyikan.

Makanan memang sulit didapat, kalau kebetulan menjumpai tanaman rakyat seperti talas atau pisang, terpaksa dimakan dan sebagai gantinya ditinggalkan uang gulden untuk pembayaran.

Dalam perjalanan ini mereka bertemu salah seorang anggota Banteng Raiders yang lepas dari induk pasukannya.
Jarak antara kampung Pasir Putih dan Kaimana sekitar 20 km, tetapi ada jalan pintas melalui jalan setapak. Karena itu usaha Belanda mencegat para gerilyawan dilakukan melalui laut dari Kaimana dan pada tempat-tempat tertentu pasukan diturunkan ke darat untuk mengadakan patroli.

Semakin dekat ke Kaimana semakin sering terjadi kontak senjata. Perkampungan penduduk di sekitar Kaimana telah dijaga ketat pasukan Belanda dan mata-matanya.
Kekurangan makanan menyebabkan kondisi fisik pasukanmenjadi lemah, gerakan menjadi lamban dan akhirnya upaya pengamanan kurang diperhatikan.

Keadaan medan dan perlawanan Belanda sebenarnya tidak berat, yang berat justru sulitnya mendapatkan makanan. Dalam suatu kontak senjata dengan musuh, Prada Surip bersama tiga temannya terpisah.

Ia bersama tiga temannya yaitu Sabaruddin, Ijang Supardi dan Aipasa (PGT) berusaha mendekati sebuah perkampungan. Rupanya kedatangan mereka telah ditunggu Belanda, sehingga terjadi kontak.

Kelompok yang semula empat orang ini terpecah lagi. Akhirnya Prada Surip tinggal sendirian. Pasukan Belanda terus melakukan pengejaran. Karena kondisi sangat lemah, akhirnya mereka tertangkap.

Anggota pasukan lain di bawah pimpinan Heru Sisnodo, sampai terjadinya gencatan senjata terus melakukan gerilya di sekitar Kaimana. Berita gencatan senjata baru mereka terima melalui pamflet yang dijatuhkan dari udara, yang itupun mereka duga hanya tipu muslihat Belanda.
Letda Czi Moertedjo dengan tiga pengikut menjelang mendekati Kaimana, terjebak oleh pasukan Belanda. Dalam kondisi kurang makan berhadapan dengan kekuatan Belanda yang lebih besar akhirnya mereka tertangkap.
Sepertinya saat melaksanakan gerilya di sekitar Kaimana, Jhon Saleky bersama Heru Sisnodo bertemu dengan kelompok perlawanan anti-Belanda dipimpin Mayor (Tituler) Lodewijk Mandatjan.

Dalam sejarah perjuangan Trikora, kelompok Mandatjan dikenal sebagai penentang Belanda yang kemudian memilih masuk hutan untuk melaksanakan perang gerilya terhadap Belanda. Karena melihat anggota APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) di tengah hutan, Mandatjan kemudian mengajak mereka bergabung.

Godipun sendiri tertangkap tanggal 7 Juni. Saat tertangkap, ia dalam pelarian seorang diri setelah kelompoknya terpecah karena diserang Belanda.

Tanpa senjata karena disimpan di dalam hutan setelah bahunya tertembak, Godipun berjalan hingga tiba di sebuah pantai di Kampung Sisir. Ia pun lupa membawa bungkusan yang isinya kitab suci dan tertinggal di hutan.

Di sini jejaknya tersendus anjing pelacak Belanda. Beberapa orang penduduk lokal mengejarnya dari belakang sambil mengacungkan golok dan tombak. Dia mencoba untuk lari, namun dicegah oleh sebuah teriakan keras, Berhentiiiiiiiii! “Saya balik kanan, saya pikir akan digorok, tapi rupanya mereka tercekat melihat saya.”

Kalung Rosario yang tersembul dari balik bajunya mengagetkan para pemburunya. “Kamu agama apa,” tanya mereka yang dijawab singkat, “Katolik.” Yang bertanya malah tidak percaya dan marah sambil berujar, “Bohong kamu, kamu babi Soekarno, bikin rusak tanah saya. Kamu mau hidup atau mau mati.”

Akhirnya Godipun dibawa ke sebuah rumah panggung di pinggir pantai. Di situ ia melihat cukup banyak kuburan yang masih baru. Apakah ada temannya yang dimakamkan di situ? Godipun hanya mengernyitkan dahinya.

Dia ditanya macam-macam, seperti siapa komandannya, di mana dia, di mana teman-teman. Karena memang tersasar, ia tidak bisa memberikan jawaban.

Setelah mendapat havermut (oatmeal), minum, dan sebatang rokok, siang itu ia dibawa ke rumah sakit untuk diobati. Suatu hari di penjara, ia didatangi seorang pastor Belanda berjubah putih yang menawarkan sakramen pengakuan dosa. Ia diajak ke ruangan komandan polisi untuk melaksanakan pengakuan dosa.

“Oleh pastor didoakan supaya Belanda dan Indonesia cepat damai dan saya cepat dipulangkan.” Kemudian diketahuinya nama pastor itu Van Manen. Saat kembali ke kamar tahanan, ia melihat di sebuah meja sebuah bungkusan yang ia sangat kenal. “Saya bilang ini punya saya, puji tuhan,” ujarnya. 

Rupanya bungkusan itu berisi kitab Taurat dan Injil.
Setelah di penjara sekian lama, suatu hari mereka dibawa dengan pesawat Dakota ke Biak. Dengan mata ditutup, mereka dituntun ke dalam pesawat yang ternyata di dalamnya sudah banyak wartawan asing.
Mencermati penuturan ini, sepertinya peristiwanya berlangsung setelah cease fire. Mereka pun difoto oleh sejumlah wartawan. Di penjara Biak, Godipun bertemu Sarjono yang pernah ia turunkan pakai tali.

Kenangan pahitnya bersama Sarjono adalah, ketika temannya ini memutuskan merebus sepatu karena sangat kelaparan. Dari Biak mereka dipindah ke penjara Wundi. Pada bulan September mereka disuruh siap-siap naik kapal untuk dibawa kembali ke Biak.

Di sini sudah menunggu Hercules milik UNTEA yang akan menerbangkan mereka ke Kemayoran, Jakarta.
Di akhir Operasi Banteng Ketaton di Kaimana diketahui bahwa PGT telah kehilangan sejumlah anggotanya. Mereka yang gugur adalah KU I Fortianus dan KU II Gintoro. Sementara yang terluka tembak adalah KU I Sahudi yang terluka saat terjun dan PU I G. Godipun.

Adapun yang gugur di Fak-Fak adalah SMU Picaulima, KU I Atjim Sunahju, KU I Sariin bin Djafar, PU I Lestari, dan PU I Suwito. Dua orang yaitu KU I S. Bomba dan PU I Pardjo hanya mengalami luka ringan.

Baca Selengkapnya ....
Template by Cara Membuat Email | Copyright of Cari Cara.