Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

SUPER HEROIK.! Ketika Tentara Republik Memporak-porandakan Konvoi Tentara Inggris!

Posted by yusuf Sabtu, 25 Maret 2017 0 komentar
PANSER Daimler Dingo tua di punggung bukit Cicurug-Sukabumi seperti kesepian. Sendiri, membisu. Sementara di bawah bukit, orang dan kendaraan hilir-mudik melintas di Jalan Raya Siliwangi Sukabumi.

Di tempat panser itu dan sekitarnya pernah pecah Pertempuran Bojong Kokosan pada pengujung 1945. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan penduduk Sukabumi menyergap konvoi pasukan Inggris (Sekutu) yang hendak ke Bandung via Sukabumi.

Inggris bertugas melucuti dan merepatriasi tentara Jepang, membebaskan dan melindungi tawanan Sekutu, serta memelihara hukum serta ketertiban. Namun, Inggris datang bersama pasukan Belanda dan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) yang berambisi menjajah kembali Indonesia. Menurut A.E. Kawilarang dalam Untuk Sang Merah Putih, Belanda memprovokasi Inggris bahwa TKR merupakan pasukan liar, ekstremis. Konflik dengan TKR pun tak terhindarkan.

Pada 21 November 1945, Resimen 5 di bawah Moeffreni Moe’min membajak keretapi logistik Inggris di Cikampek. Untuk menghindari kejadian itu terulang, Inggris mengalihkan suplai logistiknya ke Bandung melalui Bogor-Sukabumi. Panglima Komandemen I Jawa Barat Mayjen Didi Kartasasmita memerintahkan pasukan di bawah kekuasaannya, termasuk Resimen III Sukabumi, membantu misi Inggris.

Tapi situasi terlanjur panas. Pasukan Inggris juga seringkali bergerak sendiri tanpa koordinasi. Akibatnya, menurut Kawilarang, “pertempuran sering terjadi antara Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung, berupa penghadangan terhadap konvoi Sekutu yang dikawal dengan endaraan lapis baja dan tank.”

Letkol Eddie Sukardi, komandan Resimen III di Sukabumi, kesal dengan tindakan pasukan Inggris yang dianggapnya melecehkan wibawa TKR. Rencana penghadangan besar dibuat. Desa Bojong Kokosan dipilih menjadi titik penghadangan. Selain jalannya berkelok-kelok dan menanjak, kanan-kirinya bukit –cocok untuk penyergapan. Empat batalion dikerahkan menjaga masing-masing satu koridor yang totalnya mencapai 81 km.

Selain mengerahkan empat batalion, Eddie mengajak laskar-laskar dan penduduk. “Semuanya ikut berperang, termasuk ibu-ibu yang bawa alu. Apapun dijadikan senjata,” ujar Wawan Suwandi, sukarelawan Museum Palagan Bojong Kokosan yang juga anak pejuang pertempuran tersebut, kepadaHistoria.

Pada Minggu, 9 Desember, para pejuang bersiaga menunggu konvoi Sekutu. Guna menghambat laju konvoi, mereka menaruh pohon-pohon untuk barikade di tikungan “Talang Luhur” –kini sekira 200 meter dari museum.

Konvoi Inggris tiba di Bojong Kokosan pada siang hari. Di luar dugaan para Republiken, “konvoi itu terdiri dari 150 truk dengan pengawal dari Batalion 5/9 Jats dan tank,” tulis R.H.A. Saleh dalam Mari Bung, Rebut Kembali!”

Konvoi Inggris berhenti di tikungan “Talang Luhur” akibat barikade. “Ketika tank Sherman di depan sedang membersihkan barikade, konvoi yang sedang berhenti diserang pasukan TKR yang berada di bukit-bukit kiri-kanan jalan,” tulis Saleh. Banyak dari mereka menyerang dari lubang-lubang pertahanan di punggung bukit. Semua pejuang mulai dari Cicurug sampai Bojong Kokosan menyerang konvoi sepanjang sekira 12 km itu.

Pasukan Inggris kewalahan. “Pimpinan pasukan Jats sudah terluka berat pada awal serangan. Satu kendaraan terbakar, sejumlah lainnya rusak berat dan sejumlah pengemudi tertelungkup di atas kemudi, entah mati atau karena terkena luka tembak,” tulis A.J.F. Doulton dalam The Fighting Cock.

Pasukan Jats mati-matian melindungi konvoi. Balabantuan datang yaitu pesawat tempur RAF (Royal Air Force) dan Batalion 3/3 Gurkha Rifles. Di sisi lain, para pejuang kehabisan amunisi lalu mundur. Pasukan Inggris hanya bisa merayap untuk mencapai Sukabumi sembari terus bertahan. “Dalam keadaan pincang, konvoi memasuki Kota Sukabumi hampir tengah malam,” lanjut Doulton.

Meski jumlah korban tak diketahui pasti, Indonesia mencatat sebanyak 28 putra-putrinya gugur. Ke-28 nama itu diabadikan pada dinding di belakang Museum Palagan Bojong Kokosan.

sumber : historia.id

Baca Selengkapnya ....

HEROIK.! Tak Mau Pergi, Kiai As'ad Langsung TAMPAR Komandan Pasukan Jepang!

Posted by yusuf Rabu, 22 Maret 2017 0 komentar
Kisah pengusiran serdadu Jepang dari bumi Garahan, Jember tak lepas dari keberanian dan wibawa Kiai As’ad Syamsul Arifin selaku Komandan Hizbulloh Kawasan Timur Indonesia. Saat itu, begitu pasukan gerilya tiba di markas serdadu Jepang, Kiai As’ad langsung menemui komandan serdadu negara matahari terbit itu, dan memberikan ultimatum; segera angkat kaki atau dihancurkan.

Namun dia rupanya masih berkelit, bahkan minta waktu 3 bulan untuk pergi. Kiai As’ad tidak mau dikibuli, dan hanya memberi waktu 3 hari pada Jepang untuk pulang ke negaranya.

Saat hari ketiga habis, Kiai As’ad kembali menemui komandan Jepang. Tapi dia masih belum juga mau pergi dengan baragam alasan, Kiai As’ad pun marah. Dan tanpa babibu, beliau menampar muka sang komandan. Sejurus kemudian, Kiai As’ad menggebrak meja yang ada di depan sang komandan, dan meja itu pun patah jadi dua.

Cerita tersebut diungkapkan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshoamd saat memberikan sambutan dalam acara “Jember Bershalawat Dalam Rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Tasyakuran Pemberian Gelar Pahlawan Nasional KHR. As’ad Syamsul Arifin” di alun-alun Jember, Senin malam (19/12).

Menurut Kiai Muhyiddin, kisah ditamparnya Komandan Jepang tersebut menunjukkan betapa Kiai As’ad mempunyai wibawa dan keberanian yang luar biasa. Bisa dibayangkan, seorang komandan yang begitu dihormati  anak buahnya, tiba-tiba ditampar di depan mereka, dan dia tidak melawan. “Itu karena Kiai As’ad biasa berpuasa, tirakat sehingga mudah mendapatkan  pertolongan dari Allah,” ucapnya.

Setelah sambutan Kiai Muihyiddin, lantunan shalawat benar-benar membaha di langit Jember. Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin yang memimpin pembacaan shalawat dan diiringi oleh musik hadrah, cukup piawai juga. Sesekali ia menerangkan kehebatan Rasulullah SAW.

Kendati hujan rintik-rintik masih turun, namun peserta shalawat yang memadati separuh lapangan, tak beringsut dari tempat duduknya. Mereka tetap khidmat bershalawat hingga hampir memasuki paruh malam.

Acara tersebut juga dihadiri oleh cucu Kiai As’ad, Uswatun Hasanah. Bahkan kakak Ra Azaim Ibrahimy tersebut juga sempat memimpin lantunan shalawat. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

sumber : nu.or.id

Baca Selengkapnya ....

MENGGELIKAN..! Kode Rahasia TNI Saat Operasi Timor Timur. Dari "Lontong" Sampai "Kampret"

Posted by yusuf Selasa, 21 Maret 2017 0 komentar
pesawat bronco, sumber : angkasa.co.id
Kampret berarti kelelawar. Namun di kalangan TNI AU, Kampret adalah sandi bagi pesawat tempur taktis OV-10F Bronco milik TNI AU yang melaksanakan Operasi Udara Tempur Taktis di Provinsi Timor Timur (Timtim) pada awal 1980-an.

Lazimnya dalam sebuah operasi militer, nama resmi Bronco yang arti sebenarnya adalah anak kuda, tidak digunakan. Dalam operasi ini Bronco dipanggil Kampret.

Hari itu di apron Lanud Bacau, Timtim para teknisi TNI AU tengah menyiapkan sebuah OV-10F. Kegiatan dilakukan menyusul laporan dari garis depan yang menyatakan bahwa gerilyawan Fretilin yang diberi sandi Celeng semakin meningkatkan kegiatannya di perbukitan untuk merampas logistik dan senjata ABRI.

Kapten Inf Prabowo Subianto dari unsur TNI AD terlihat berbincang dengan para perwira ABRI lainnya.

Sambil berjalan menuju pesawat, Kapten Soenyoto yang bertugas di Dinas Penerangan TNI AU, mendapat penjelasan dari penerbang OV-10F Kapten Pnb Yuni Purworiadi.

Ia menjelaskan bagaimana saya menjadi “penerbang” yang akan duduk di kursi belakang. Kampret memiliki dua kokpit tandem, di mana Soenyoto akan duduk mengikuti misi operasi. Penerbang itu menjelaskan pula bagaimana cara meninggalkan pesawat menggunakan kursi lontar (ejection procedure) bila dalam misi itu Bronco tertembak.

Sebagai personel Dispenau yang akan mendokumentasikan Operasi Tuntas di Timtim, Soenyoto membawa “senjata” berupa kamera video Panasonic berbobot empat kilogram dan sebuah kamera foto.

“Pasukan di darat sudah melihat Kampret belum?” tanya Kapten Yuni Purworiadi melalui radio kepada kompi-kompi tempur di darat saat pesawat mulai terbang menuju sasaran.

Hutan sangat lebat sehingga pemandangan dari dalam kokpit Bronco tertutup barisan pepohonan. Baik Kapten Yuni maupun Soenyoto tidak mampu melihat gerakan pasukan darat.

“Kami belum melihat Kampret, baru dengar suaranya saja,” jawab pasukan di darat.

OV-10F kembali berputar mengulangi rute awal dan menambah sedikit ketinggian terbang.

“Oke, kami sudah melihat Kampret, maju saja terus ke arah pohon besar di depan,” timpal pasukan darat.

Kampret saat itu terbang membawa Merica (sandi untuk peluru senapan mesin kaliber 7,62mm, Lontong (sandi untuk roket FFAR), dan Nangka (sandi untuk dua bom di bawah sayap).

“Di mana Celeng-nya?” tanya pilot yang kemudian dijawab pasukan darat mereka berada di bawah pohon besar di depan.

“Oke, sekarang saya sudah melihatnya,” lanjut Kapten Yuni.

Para Celeng bergerak dalam kelompok kecil dua-tiga orang. Mereka biasanya menyerang dengan tiba-tiba dan setelah itu lari. Gerakan mereka cepat karena sudah menguasai medan.

Fisik mereka juga sangat kuat. Tanpa mengenakan sepatu mereka bisa bergerak cepat di medan berbatu tajam. Untuk menghambat gerak Celeng, pasukan darat memagarinya dengan teknik pagar betis dibantu operasi udara taktis seperti yang sedang dilakukan si Kampret ini.

Setelah jarak Bronco terhadap pohon besar sudah dekat, OV-10F kemudian terbang menukik disusul ucapan Kapten Yuni, “Ini saya kirimkan Merica untuk Celeng-celeng itu. Laporkan hasilnya!”

Sambil terus menukik OV-10F memberondongkan senapan mesin satu rentetan. Setelah itu pilot melakukan pull-up 60 derajat secara tiba-tiba. Kamera video yang dipegang Soenyoto pada saat pull-up bertambah menjadi 20 kg. ini terjadi karena tekanan gravitasi sekitar %G mengakibatkan bertambahnya beban lima kali lipat.

“Kampret, bagus sekali. Terus lakukan seperti itu sampai Celeng kocar-kacir,” teriak pasukan darat.

OV-10F pun mengulangi lagi lintasan penerbangan seperti penembakan pertama. “Oke, ini Merica lagi, lebih banyak,” kata pilot. Setelah itu terdengar lagi rentetan tembakan yang lebih panjang ke arah pohon besar di bawah.

Pada lintasan Kampret yang ketiga Kapten Yuni memberi aba-aba lagi kepada pasukan darat. “Sekarang saya kirimkan Lontong.” Setelah itu pesawat menukik lagi dan terlihat dari sayap kiri dan kanan roket FFAR melesat dengan suara mendesis.

Dua roket mengarah ke pohon besar di arah depan dan setelah itu hilang dari pandangan karena Kampret melakukan pull-up.

Terdengar di radio pesawat suara sorak sorai pasukan darat yang tentunya menyaksikan bagaimana para Celeng kocar-kacir karena dilempari Lontong

“Pusing ya Pak Nyoto? Kalau mau muntah, muntah saja, kan bawa kantong plastik,” Yuni memberi instruksi kepada Soenyoto yang merasa lemas.

“Baguslah kalau tidak pusing. Kita lanjutkan lagi satu lintasan untuk mengirim Nangka,” kata Kapten Yuni.

Di lintasan ketujuh yang menjadi lintasan terakhir sebelum kembali ke Lanud Baucau, Kampret mengirim dua Nangka ke sasaran.

Bom seberat 250 kg itu sebagai salam perpisahan kepada para Celeng. “Saya kirimkan dua Nangka. Awas jangan dekat-dekat pohon besar itu,” ujar Kapten Yuni kepada pasukan di darat.

Kampret menukik lagi dan melepaskan dua bom 250 kg dari sayap kiri dan kanan. Setelah itu Kampret melakukan pull-up dan terdengar suara gemuruh ledakan bom.

“OK, Kampret pulang. Tolong laporkan hasilnya,” pinta Yuni kepada pasukan darat.

Tak lama berselang kami pun mendarat di Lanud Baucau. Saat kanopi pesawat dibuka, pertanyaan pertama para teknisi kepada Soenyoto adalah soal muntah.

“Muntah tidak?” tanya mereka tak sabar. “Oh, tidak. Biasa saja,” jawab Soenyoto dengan sedikit menyombongkan diri.

Namun, ketika para teknisi meminta Soenyoto untuk turun dari pesawat, ternyata Soenyoto tak bisa mengangkat kedua kaki untuk berdiri akibat dengkul terasa lemas sekali.

“Aduh, tunggu sebentar ya. Kaki masih lemas nih tidak bisa diangkat karena tujuh kali pull-up,” ujarnya.

Author: Kolonel (Pur) Soenyoto/Remigius S.

Sumber : angkasa

Baca Selengkapnya ....

Pertempuran Surabaya : Hanya Ada di Indonesia, 2 Jendral Tentara Inggris Tewas!

Posted by yusuf 0 komentar
Dalam suasana Revolusi Kemerdekaan Indonesia Perang 10 Novermber 1945 di Surabaya merupakan perang pertama Indonesia melawan pihak asing yaitu Tentara AFNEI khususnya Tentara Inggris setelah di kumandangkannya Proklamasi kemerdekaan indonesia pada 17 Agustus 1945 dan merupakan perjuangan paling berat dibandingkan dengan peperangan lainnya selama Revolusi perang kemerdekaan dengan perkiraan di Pihak Indonesia mengerahkan 20 Ribu tentara di tambah 100 Ribu sukarelawan melawan 30 Ribu Tentara Inggris yang di lengkapi dengan persenjataan modern, Tank, pesawat Tempur, dan Kapal Perang.pertempuran ini merupakan Mobilisasi Militer Inggris terbesar terhadap negara lain setelah berakhirnya perang dunia kedua.

Latar Belakang Peristiwa
   
Dalam suasana Perang Dunia kedua terdapat 2 kekuatan besar yang mendominasi dunia yaitu blok Poros (Jerman, Jepang, Italia dll) melawan Blok Sekutu yang terbagi lagi menjadi dua bagian yaitu Sekutu Barat (Amerika, Inggris, Perancis, Belanda dll) kemudian Sekutu Timur (Uni Soviet).Sebelum tahun 1944 Blok poros selalu mendominasi kemenangan atas blok lawannya termasuk jepang yang berhasil menguasai sebagian besar asia timur dan membentuk Asia Timur raya, dan sesudah tahun 1944 merupakan titik balik bagi blok poros dan banyak mendapatkan kekalahan dalam arena perang di tambah lagi tidak lama sebelumnya pada tahun 1943 di jungkalkannya Benito musholini yang merupakan Pimpinan Italia yang berkoalisi dengan Blok Poros oleh politisi dan militer senior dengan restu dari Raja karena atas kekalahn perang di Afrika dan Balkan .

Pada tahun 1945 Berlin yang merupakan Ibu Kota Negara Jerman berhasil dukuasai oleh Tentara Uni Soviet dan beberapa saat kemudian jerman menyerah kepada sekutu, tinggal lah satu lagi kekuatan blok sentral yang masih tersisa di asia yaitu Jepang, kekalahan demi kekalahan terus di alama jepang di perang pasifik melawan sekutu terutama yang palaing terkenal adalah kekalahan jepang di Iwo Jima hinggak akhirnya Kota Hirosima dan Nagasaki di jatuhi bom atom oleh tentara sekutu, beberapa hari setelah pemboman yaitu pada tanggal 15 Agustus 1945 Kaisar jepang Hirohito mengumumkan bahwa jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu dan tidak lagi berhak atas kuasa terhatap seluruh wilayah jajahannya yang dikuasai selama perang dunia 2.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Setelah mengetahui Jepang telah menyerah para pemuda mendesak agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada sangkut paut dengan jepang tapi para tokoh tua termasih Soekarno dan Hatta menolak dengan alasan tidak akan mendapat dukungan dari Jepang maupun yang lain, tapi para pemuda bersikukuh agar kemerdekaan Indonesia murni tanpa ada sangkut paut dengan jepang, kemudian para golongan muda menculik Sukarno dan Hatta ke Rengas Dengklok yang kita kenal dengan peristiwa Rengas Dengklok dan pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan di kawal oleh Anggota BKR yang merupakan para mandan Tentara Heiho, Peta dan KNIL Soekarno dan Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia.Selain itu di beberapa tempat termasuk di Surabaya Laskar-Laskar rakyat melucutu senjata tentara jepang sehingga banyak bentrok antara para laskar dan rakyat dengan tentara jepang, dengan demikian banyak di antara rakyat Indonesia yang memiliki senjata hasil rampasan dari tentara Jepang.

Kedatangan AFNEI (Allied Forces Nethrlands East Indies)

Ketika pelucutan senjata tentara jepang oleh Laskar Pejuang dan Rakyat sedang berlangsung pada tanggal 15 September 1945 dan 15 Oktober 1945 Pasukan AFNEI mendarat di Jakarta dan Surabaya, tugas pokok AFNEI adalah melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang Jepang, dan memulangkan para tentara jepang ke Negaranya, sebagai wakil tentara sekutu yang tergabung di dalam AFNEI di dalamnya terdapat Tentara Inggris, Tentara India, dan Tentara belanda yang berniat ingin mengembalikan kembali Indonesia kepada Belanda di bawah NICA (Netehrlands Indies Civil Administration), dengen demikin ketika Rakyat Indonesia mengetahui AFNEI membonceng tentara Belanda yang ingin mengembalikan kembali Indonesia kepada NICA maka terjadilah perlawanan Rakyat Indonesia dimana-mana, bentrokan-bentrokan sering terjadi antara Rakyat Indonesia termasuk di Surabaya yang mempunya senjata dari hasil rampasan tentara jepang dengan Tentara yang tergabung dalam AFNEI.

Terbunuhnya Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby

Pada tanggal 31 Agustus 1945 dikeluarkannya maklumat pemerintah Indonesia yang menetapkan pada tanggal 1 September 1945 bendera merah putih terus dikibarkan di seluruh pelosok Indonesia dan semakin lama pengibaran bendera ini semakin meluastermasuk di kota surabaya.Tanpa persetujuan Indonesia orang-orang belada di bawah pimpinan W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945 mengibarkan bendera belanda (Merah Putih Biru) di puncak tertinggi di Hotel Yamato atau hotel Orange, akibatnya besok hari ketika para pemuda melihat adanya bendera belanda yang dikibarkan dan langsung berkumpul di sekitar hotel Yamato atau hotel Oranye, negosiasi pihak ndonesia dengan orang belanda di dalam Hotel berakhir dengan terbunuhnya Ploegman di cekik oleh perwakilan indonesia yang bernama Sidik, kemudian sudik pun tewas tertembak oleh tentara belanda yang sedang berjaga sementara dua orang lainnya melarikan diri keluar hotel, dan puncaknya yerjadilah pemanjatan terhadap hotel Yamato dan perobekan warna biru bendera belanda kemudian bendera dinaikan kembali dengan warna Merah Putih.

Setelah peristiwa tersebut kemudian pada tanggal 27 Oktober 1945 terjadi peperangan-peperangan kecil antara Indonesia dengan tentara Inggris dan semakin lama semakin membesar dan menjadi Perperangan besar, untuk meredam ketegangan kemudian DC.Howthorn meminta Soekarno untuk meredam ketegangan, dan di sepakatilah gencatan senjata antara Indonesia dan tentara Inggris yang di tandatangani pada tanggal 29 Oktober 1945 dan keadaan berangsur-angsur mereda, tapi masih ada bentrokan-bentrokan kecil antara kedua belah pihak, bentrokan-bentrokan kecil tersebut memuncak setelah terbunuhnya Brigade Jenderal Aubertin Mallabay yang merupakan pimpinan Tentara Inggris untuk Jawa Timur, pada tanggal 30 Oktoner 1945 Mobil Buick yang di tumpangi Mallabay berpapasan dengan sekelompok milisi ndonesia di dekat Jembatan Merah, karena kesalahahaman terjadilah tembak menembak antara kedua belah pihak hingga akhirnya Mallabay tertembak dan Mobil yang di tungganginya meledak oleh ledakan geranat hingga ia terpanggang di dalam mobil.

Setelah Mallabay tewas pihak Inggris marah kepada Indonesia dan pengganti Mallabay yaitu Mayor Jenderal Eric Corden Robert Mansergh mengeluarkan Ultimatum agar seluruh rakyat Surabaya yang memiliki senjata agar menyerahkan senjatanya kepada Tentara Inggris di tempat yang telah di tentukan dengan mengangkat tangan waktunya adalah pagi hari jam 6.00 tanggal 10 November 1945 dan apabila Rakyat Surabaya tidak mematuhinya maka Surabaya akan di serang dari Darat, Laut dan Udara.Rakyat Indonesia khususnya Rakyat Surabaya menganggap Ultimatum ini adalah sebuah hinaan dari Tentara Inggris atas Indonesia karena epublik Indonesia pada saat itu telah berdiri, kemudian Ultimatum Tentara Inggris itu di jawab oleh tokoh dari Rakyat Surabaya berikut :

"....Selama banteng-banteng Indonesia mempunjai darah merah yang bisa membikin sedjarik kain wana poetih, tidak aken kita maou menjerah pada siapapun djuga...."

Pada pagi hari tanggal 10 November 1945 Pesawat-pesawat tempur Inggris mulai melancarkan serangan dengan membombardir kota surabaya dan pembombardiran di lancarakan dari laut dengan kapal-kapal perang Inggris kemudian di susul oleh 30 Ribu infantri bersenjata lengkap, perlawanan rakyat Surabaya terus menggelora meskipun banyak korban di pihak Indonesia, para Kyai dan ulama Jawa Timur termasuk KH.Hasyim Asy'ari dan KH.wahab hasbullah memerintahkan para saktri untuk ikut berjuang melawan Tentara Inggris tersebut, dan jangan lupa pada saat itu Rakyat Indonesia lebih patuh pada para Kyai, Ulama dan tokoh agama lainnya daripada kepada pemerintah.

Sebelumnya Tentara inggris mengira dapat menguasai seluruh Kota Surabaya selama 3 hari ternyata Inggris salah, perang terus berlanjut sampai berminggu minggu dengan perlawanan dari Rakyat Surabaya serta bantuan dari milisi-milisi dari wilayah lain, dalam suasana pertempuran yang hebat 3 Pesawat Tentara Inggris jenis  Musquito di tembak jatuh oleh para pejuang Indonesia dan salah satu pesawat membawa salah seorang Jenderal Inggris yang bernama Jenderal Robert Guy Loder Symon kemudian dia terluka parah dan tewas keesokan harinya.

Dua jenderal Inggris Tewas di Surabaya sementara pada perang dunia ke 2 di Eropa melawan Nazi jeman yang kekuatan Militernya beratus-ratus bahkan mungkin beribu-ribu kali lipat jika di bandingkan dengan para pejuang Indonesia yang hanya bermodalkan senjata utama dari hasil rampasan dari tentara Jepang, tidak ada satupun Jenderal Inggris yang tewas.Dengan melihat banyaknya korban jiwa dalam pertempuran yang hebat maka Pemerintah Republik Indonesia Menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan.

(sumber)

Baca Selengkapnya ....

Mengenal Jagoan Wanita Betawi : MPOK RIS, Pendekar Cantik Jelita dari Betawi yang Membuat Belanda KALANG-KABUT!

Posted by yusuf Minggu, 19 Maret 2017 0 komentar

Selama ini kita mengenal Si Pitung sebagai pendekar yang jadi jagoan Betawi. Ternyata, selain Si Pitung, Betawi juga masih memiliki pendekar hebat bernama Mpok Ris yang selalu saja ditakuti oleh Belanda. Setiap kali menjalankan aksinya, Mpok Ris selalu bisa membuat barisan pasukan Belanda keok dan lari terbirit-birit.

Ketenaran Mpok Ris membuat Belanda selalu waspada dengan gadis asli Betawi ini. Setiap menjalankan tugas di kawasan desa Mpok Ris mereka selalu menghindari Mpok Ris apa pun caranya. Yuk, mengenal Mpok Ris dan seperti apa kiprahnya dalam masyarakat Betawi.

Gadis Cantik yang Digandrungi oleh Banyak Pria

Dikisahkan dalam sejarah bahwa Mpok Ris memiliki wajah yang sangat rupawan. Hal ini menyebabkan banyak pemuda di Betawi mengejarnya terus-terus. Hampir setiap hari Mpok Ris Selalu digoda oleh pemuda Betawi yang berusaha untuk mempersuntingnya meski sangat sulit dan mustahil karena Mpok Ris merupakan gadis yang menyukai petualangan dan perjuangan.

Selain masalah petualangan, Mpok Ris juga dikenal hebat dalam bela diri. Meski dia seorang wanita, kemampuan bela dirinya sangat tinggi sehingga pemuda Betawi yang akan mendekatinya harus berpikir dua kali. Salah bertindak bisa dihajar hingga babak belur dan tidak bisa bangun untuk selamanya.

Penjarahan Belanda di Kampung Mpok Ris

Mpok Ris berasal dari kampung bernama Cipondoh yang tidak jauh dari sana merupakan gudang dari Belanda. Gudang itu digunakan untuk menyimpan banyak beras yang dijarah oleh Belanda dari masyarakat. Hasil panen dari masyarakat Cipodoh yang ditanam dengan sekuat tenaga mendadak diambil tanpa diberi kompensasi apa-apa.

Penjarahan yang dilakukan oleh Belanda membuat Mpok Ris tidak tahan. Melihat masyarakat terus menderita sementara Belanda berfoya-foya membuat Mpok Ris akhirnya berjuang dan melakukan perlawanan dengan kekuatan yang dia miliki. Dia maju di garis dengan melawan sekelompok pasukan Belanda secara langsung tanpa perlindungan apa-apa. Awalnya Mpok Ris disepelekan karena merupakan seorang wanita. Namun, kemampuannya yang hebat membuat Belanda jadi lari terbirit-birit.

Mpok Ris yang Sakti dan Membuat Belanda Ketakutan

Setelah diremehkan oleh Belanda, Mpok Ris akhirnya menunjukkan kekuatanya. Mpok Ris melancarkan bela diri yang dia pelajari dari beberapa guru. Konon Mpok Ris belajar dari ahli silat Betawi dan ahli bela diri dari Tiongkok. Dia mempelajari semua ilmu silat yang ada sehingga dikenal susah dikalahkan dan juga sakti karena bertarung tanpa senjata api.

Satu-satunya senjata yang dimiliki oleh Mpok Ris adalah batang pohon Plawad. Dengan batang pohon ini, dia bisa memutar balik pasukan bersenjata dari Belanda yang menyerangnya. Kejadian ini tidak sekali dua kali, hampir setiap penyerangan Belanda berhasil dibelokkan oleh Mpok Ris dengan sempurna.

Menikah dan Kesaktiannya Hilang

Mau sekuat dan sesakti apa pun, Mpok Ris tetaplah seorang wanita. Dia harus menikah meski tidak banyak orang yang berani mendekatinya. Mengetahui permasalahan ini, ayah dari Mpok Ris akhirnya mengadakan sayembara. Siapa saja yang bisa mengalahkan Mpok Ris bisa mendapatkan pendekar wanita ini dan boleh menikahinya.

Dalam sayembara ini, Mpok Ris berhasil dikalahkan oleh seorang pria yang sakti. Akhirnya Mpok Ris mau tidak mau menikah dengan pria itu. Setelah menikah, kesaktian dari Mpok Ris perlahan-lahan menurun dengan drastis. Ternyata kunci dari kesaktian dari Mpok Ris adalah keperawanannya. Setelah menikah dan bersuami kesaktiannya hilang dan dia mampu diringkus oleh Belanda hingga akhirnya meninggal dunia.

Inilah kisah tentang Mpok Ris yang sangat sakti itu. Meski dia hanyalah seorang wanita, perjuangan dalam melawan penjajah tetap dilakukan dengan gagah berani. Keberanian dari Mpok Ris dalam melawan Belanda membuatnya layak dijuluki Singa Betina dari Betawi.

Sumber : boombastis.com

Baca Selengkapnya ....

Mengungkap Si Putih, Sosok MISTERIUS Penunjuk Jalan Jendral Besar SOEDIRMAN!

Posted by yusuf 0 komentar
Ilustrasi si Putih
KEBERHASILAN gerilya Jenderal Soedirman terletak pada kesediaan masyarakat membantu perjuangannya. Mereka menyediakan penginapan dan makanan, membuatkan tandu baru, memikul tandu, dan penunjuk jalan karena penduduk setempat lebih mengetahui arah jalan yang akan ditempuh.

“Menjadi kebiasaan rombongan itu untuk menggunakan tenaga-tenaga setempat sebagai penunjuk jalan,” tulis buku Soedirman Prajurit TNI Teladan.

Pada 24 Januari 1949 malam, Kapten Tjokropranolo, pengawal Soedirman, memutuskan jalan dari Desa Jambu menuju Warungbung. Penduduk setempat menyarankan agar paginya sudah harus berangkat ke tempat lain karena ternyata rombongan bergerek mendekati markas Belanda di Kasugihan, yang jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer. Tandu dibuat dan pemanggul disiapkan malam itu juga. Benar saja, setelah mereka sampai di Desa Gunungtukul pada 25 Januari 1949, deru kendaraan militer Belanda begitu dekat sehingga rombongan terus melanjutkan prejalanan.

Sewaktu hendak memotong jalan Ponorogo-Trenggalek pada 26 Januari 1949, Tjokropranolo seperti biasa mencari seorang penunjuk jalan. “Di daerah itu oleh penduduk setempat saya diperkenalkan kepada seorang penunjuk jalan bernama Putih (kemungkinan besar bukan nama sebenarnya, red),” kata Tjokropranolo dalam Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman, Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia.

Namun, menurut Soedirman Prajurit TNI Teladan, orang itu penduduk Desa Jambu di Trenggalek, yang menawarkan diri menjadi penunjuk jalan. Dengan tetap waspada, tawaran itu diterima dengan senang hati.

Mula-mula, Tjokropranolo merasa aneh mengapa justru si Putih yang berperawakan kecil, berkulit putih, berperangai lembut tapi gerakannya lincah, dipilih sebagai penunjuk jalan. Sedangkan di sekelilingnya banyak orang lain yang postur badannya besar dan kokoh. Rupanya, kata Tjokropranolo, tidak ada orang yang berani menjadi penunjuk jalan karena rombongan sudah dekat dengan pasukan Belanda. Tapi si Putih berani.

“Tanpa bertanya lagi saya terima saja si Putih sebagai penunjuk jalan. Dalam perjalanan dari desa Gunungtukul ke desa Ngideng, si Putihlah yang menjadi penunjuk jalan,” kata Tjokropranolo.

Dua hari dua malam si Putih berjalan. Sesampainya di Desa Ngideng, rombongan menginap di rumah seorang penduduk yang cukup berada. Mereka dilayani dengan baik. Rumahnya tidak jauh dari sungai yang cukup deras, sehingga mereka lebih senang mandi di sungai daripada di sumur.

Tjokropranolo curiga terhadap si Putih karena tidak mau mandi bersama-sama dan memilih mandi di tempat lain yang lebih jauh. Dia pun memerintahkan seorang anggota rombongan, Mustafa, mengikuti si Putih. Dia khawatir si Putih sudah tahu siapa yang ditandu dan melaporkannya kepada pasukan Belanda di Ponorogo.

Setelah mengamati si Putih, Mustafa dengan tertawa lebar melaporkan kepada Tjokropranolo bahwa si Putih adalah "seorang wanita yang bertabiat kelaki-lakian." Bisa saja, dia tomboy, namun Tjokropranolo menyebutnya waria. “Saya sendiri ngga ngira. Sifat-sifatnya persis laki-laki. Legalah hati saya, setelah mengetahui bahwa si Putih itu ternyata seorang waria. Dia tentunya akan selalu menghindar mandi bersama kita,” kata Tjokropranolo.

Kendati Tjokropranolo tidak mengira telah dituntun oleh seorang waria, namun dia mengakui peranannya. “Sungguh ngga ngira. Pokoknya kita selamat.”

sumber : historia.id

Baca Selengkapnya ....

Usman Harun Digantung, Marinir Siap Tenggelemkan Singapura ke Selat Malaka!

Posted by yusuf Sabtu, 18 Maret 2017 0 komentar
Sebagai bentuk penghormatan kepada prajurit yang berjasa bagi bangsa dan negara, TNI AL berniat menamai kapal perangnya dengan nama KRI Usman Harun. Sersan Dua Usman Janatin dan Kopral Harun Said merupakan anggota KKO (Korps Komando Operasi; kini disebut Marinir) yang tewas di tiang gantung Singapura.

Pemberian nama Usman Harun kepada kapal perang itu mendapat tentangan keras dari pemerintah Singapura. Kepada Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa , Menlu Singapura K Shanmugam mengajukan keberatan. Alasannya penamaan kapal perang tersebut akan melukai perasaan rakyat negeri jiran itu.

Usman dan Harun sendiri merupakan anggota satuan elite KKO yang ditugaskan mengebom pusat keramaian di Singapura pada 1965. Setelah tertangkap, keduanya kemudian dieksekusi dengan cara digantung pada 17 Oktober 1968.

Digantungnya dua prajurit KKO mengakibatkan aksi demonstrasi terjadi di mana-mana. Rakyat menuntut agar Presiden Soeharto menyatakan perang dengan Singapura.

Dalam buku 'Singapura Basis Israel Asia Tenggara', Rizki Ridyasmara menuliskan; "Kala itu bahkan terdengar suara bahwa KKO sudah siap menyerang Singapura dan dalam tempo dua jam sanggup menenggelamkan negara kecil tersebut ke dasar Selat Malaka".

Dalam buku setebal 212 halaman tersebut, Rizki menuliskan, ancaman KKO tersebut bukan gertakan semata. Saat itu, kekuatan armada perang Republik Indonesia warisan Presiden Soekarno sangat ditakuti di Asia Tenggara.

"Australia pun kecut untuk berbuat macam-macam dengan Indonesia. Soekarno telah mewariskan armada perang yang kuat kepada Soeharto", tulis Rizki dalam Bab IV: Moncong Meriam di Jidat Indonesia.

Namun sayang, Soeharto yang baru memimpin republik ini tidak berani menyatakan perang dengan negara yang luasnya tidak lebih dari dua kali Kabupaten Karawang itu. Oleh Soeharto , keduanya langsung diberi gelar pahlawan dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. 

sumber : merdeka.com

Baca Selengkapnya ....

Operasi TRIKORA, Ketika Pasukan Elit Indonesia MEREBUS SEPATU demi Bertahan Hidup!

Posted by yusuf Kamis, 16 Maret 2017 0 komentar
Sesuai surat yang ditandatangani Panglima Mandala pada 11 April 1962, telah dikeluarkan Perintah Operasi penerjunan PGT (Pasukan Gerak Tjepat) dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat).

Kedua pasukan digabung di bawah satu komando untuk penerjunan pada 26 April di sebuah dropping zone di wilayah Fak-Fak dan Kaimana.

Penerjunan ini merupakan infiltrasi udara pertama yang akan dilakukan tentara Indonesia di wilayah Irian Barat dalam rangka Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat dari Belanda.

Pada saat Operasi Banteng Ketaton dilaksanakan menggunakan enam pesawat Dakota, pada pagi hari itu juga 26 April, diterbangkan pembom B-25 Mitchel dan dua pemburu P-51 Mustang sebagai pengawal

Seperti ditulis di buku 52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat(2014), penerbangan ini dilakukan untuk memantau keamanan jalur penerbangan sekaligus penipuan (deception flight).

Belanda tidak menduga Indonesia mampu melakukan infiltrasi melalui udara. Menurut mereka, rimba Irian Barat yang begitu rapat dan perawan, sangat tidak mungkin dijadikan pangkalan gerilya.

Dalam operasi penerjunan pertama ke wilayah Irian Barat, kepada penerjun diinstruksikan agar menyusup ke daerah lawan dan sedapat mungkin menghindari kontak senjata.

Tujuannya adalah untuk mengacaukan situasi dari dalam, sekaligus menarik perhatian Belanda agar tertuju ke wilayah daratan (tengah) sehingga pasukan kawan yang akan mendarat di pantai (daerah pinggir) dapat masuk lebih leluasa.

Di samping itu mereka mendapat tugas merusak radar di Kaimana. Untuk mendukung penyamaran di hutan, mereka mengenakan overall warna hijau tanpa pangkat. Setelah kejadian-kejadian ini, militer Belanda mulai guncang dan tidak yakin lagi atas pertahanan udaranya, karena dengan mudah bisa ditembus oleh Dakota.

Pagi hari, 15 April 1962, Kolonel Udara Wiriadinata didampingi Sersan mayor Udara (SMU) Picaulima dan KU I Atjim Sunahju, dipanggil Men/Pangau Laksamana Udara Omar Dhani. Dalam pertemuan itu Men/Pangau memberitahukan bahwa Picaulima bersama 18 anggota PGT akan diterjunkan di Irian Barat.

Keesokan harinya ke-19 anggota PGT ini sudah diterbangkan ke Ambon menggunakan Hercules. Di sana mereka diterima Wakil Panglima Mandala, Komodor Udara Leo Wattimena.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 25 April, ke-19 anggota PGT ini diterbangkan ke Lanud Amahai, dan di sana sudah ada anggota RPKAD.

Pagi itu sekitar pukul 10 waktu setempat, 25 April, flight C-47 Dakota yang terbang dari Kupang mendarat di Lanud Pattimura. Pesawat ini berangkat dari Lanud Halim sehari sebelumnya. Tak lama kemudian digelar briefing dipimpin Panglima Mandala Mayjen Soeharto didampingi Komodor Leo Wattimena.

Briefing yang berlangsung di Gedung Teknik Umum (gedung diesel) Lanud Pattimura itu dihadiri oleh pilot Dakota yang akan mendapat tugas menerjunkan pasukan PGT dan RPKAD di Fak-Fak dan Kaimana.

Sejumlah warga berusia lanjut di sekitar Lanud Pattimura yang pernah Angkasa temui, masih mengingat momen ini, saat Soeharto memberikan taklimatnya.

Dalam briefing siang itu dijelaskan bahwa tugas penerbang adalah menerjunkan pasukan ke daerah yang sudah ditentukan. Beberapa penerbang terlihat kaget, namun cepat menyesuaikan diri.

Pasukan yang akan diterjunkan di Kaimana diminta langsung menuju ke pesawat untuk diterbangkan ke Langgur dan istirahat sampai waktu yang ditentukan. Sebelum lepas landas dari Pattimura, Soeharto dan Leo memberikan ucapan selamat kepada pasukan yang dipimpin Lettu Inf Heru Sisnodo dari RPKAD.

Operasi dibagi atas dua penerbangan yang lepas landas dari Lanud Amahai, dengan pentahapan Operasi Banteng I (Banteng Putih) menerjunkan pasukan di Fak-Fak, dan Operasi Banteng II (Banteng Merah) di Kaimana.
Penerjunan di Fak-Fak dipimpin Letda Inf Agus Hernoto, sedangkan di Kaimana dipimpin Lettu Heru Sisnodo. Bersama mereka juga diikutkan anggota dari Zeni Angkatan Darat, yang akan bertugas merusak fasilitas radar Belanda di Kaimana.

Sambil menunggu perintah berangkat, pasukan memilih leyeh-leyeh di bawah sayap pesawat. Mereka berusaha tidur sekenanya untuk mengumpulkan tenaga.

Tiga pesawat Dakota yang dipimpin Mayor Udara YE Nayoan, Komandan Skadron 2 Transport, disiapkan untuk menerbangkan pasukan ke Fak-Fak. Lengkapnya operasi ini akan menerjunkan satu tim gabungan yang terdiri dari 10 prajurit PGT, 30 prajurit RPKAD ditambah dua orang Zeni. Tim ini dipimpin Letda Agus Hernoto.

Sewaktu lepas landas dari Laha, hujan turun deras. April hingga Juni memang musimnya penghujan di kawasan Indonesia Timur. Dropping dilaksanakan di tengah temaramnya subuh di sebelah utara Fak-Fak.

Ketika formasi pesawat dalam perjalanan pulang, terlihat di laut sebuah kapal yang lampunya berkelap-kelip. Setelah Dakota pada posisi sejajar dengan kapal, diketahui dengan jelas bahwa ternyata kapal dimaksud milik angkatan laut Belanda.

Lampu yang terlihat berkelap-kelip ternyata tembakan dari kapal ke Dakota. Formasi  Dakota langsung berbelok ke kanan dengan arah menjauh.

Setelah konsolidasi di pagi hari itu, rombongan PU II Pardjo yang diterjunkan di Fak-Fak ternyata selamat dan satu anggota dinyatakan hilang. Beberapa hari kemudian datang Marinir Belanda sehingga terjadi kontak senjata.

Sesuai instruksi sebelumnya, bila kekuatan tidak seimbang segera masuk hutan. Setelah keadaan tenang mereka menyusup kembali ke kampung tersebut dan ternyata sudah kosong. Rumah-rumah penduduk dibakar oleh Belanda dan penduduknya mengungsi entah kemana.

Sementara pasukan yang diterjunkan di Fak-Fak, sekitar satu bulan bertahan di sekitar kampung Urere, kemudian mendapat perintah meninggalkan kampung.

Dalam kondisi sudah lemah karena kekurangan makanan, pasukan berhenti sejenak di kebun pala untuk istirahat. Kemudian secara tiba-tiba diserang pasukan Belanda dari arah seberang sungai.

Dalam kontak senjata, lima anggota gugur yaitu KU I Adim Sunahyu, PU I Suwito, PU I Lestari, dua orang dari RPKAD yakni Sukani dan seorang lagi tak diketahui namanya. 

Komandan Peleton Letda Agus Hernoto tertembak di kedua kakinya dan ditawan Belanda.

Sedangkan PU II Pardjo, kaki kanannya tertembak namun dengan sisa tenaganya berusah menyelinap. Setelah Belanda pergi, Pardjo berusaha merangkak (karena tak sanggup berdiri) menuju tempat kelima temannya yang gugur. Dia hanya sanggup berdoa dan tetap bertahan hidup di situ sekitar lima hari di antara mayat teman-temannya yang mulai membusuk.

Sebuah kebetulan beberapa orang Papua lewat. Mungkin kasihan melihat Pardjo yang terluka, ia digotong dan dibawa ke kampung terdekat.

Setelah beberapa hari dirawat, digotong lagi bersama-sama menyusuri pantai menuju rumah sakit angkatan laut Belanda di Fak-Fak. Di sini ia memperoleh perawatan medis sebelum ditahan. Pada saat penahanan itu ia mendengar melalui radio Belanda bahwa telah terjadi gencatan senjata.

Setelah menjalani interogasi, ia dikirim dengan kapal laut ke Biak dan dari sana dibawa ke penjara di Pulau Wundi. Di sinilah akhirnya ia bertemu pasukan Resimen Pelopor, Kapten Kartawi dengan pasukannya, pasukan Peltu Nana, Serma Boy Tomas, Kapten Udara Djalaludin, Letnan Udara I Sukandar dan kru pesawat Dakota T-440.

 Operasi Banteng II
Penerjunan di Kaimana yang pertama terdiri dari tiga pesawat Dakota yang diterbangkan oleh Kapten Udara Santoso dengan kopilot LU II Siboen, LU I Suhardjo dengan LU II M Diran, dan LU I Nurman Munaf dengan LU I Suwarta.
Penerbangan ini dipimpin Kapten Santoso. Operasi ini menerjunkan satu tim gabungan PGT dan RPKAD (23 RPKAD, 9 PGT, dan satu perwira Zeni) di bawah pimpinan Letda Heru Sisnodo dan Letda Zipur Moertedjo sebagai pimpinan penghancur radar di Kaimana.

Setelah istirahat satu malam di Langgur, keesokan harinya 26 April 1962 pukul 04.45 waktu setempat, tiga Dakota lepas landas menuju sasaran di daerah Kaimana dengan terbang rendah dalam keadaan hujan.

Pada saat fajar menyingsing sekitar pukul 05.30, pesawat mendekati daerah sasaran sekitar l0 kilometer dari kota Kaimana yang terletak pada suatu lembah. Pertama-tama diterjunkan adalah logistik, baru kemudian satu per satu pasukan keluar dan mendarat di Kampung Urere.

KU II Godipun masih sempat melihat buih-buih berkejaran di pantai Kaimana sebelum bel tanda persiapan untuk terjun, memecah kesunyian subuh itu.

Karena masih gelap, umumnya tidak bisa menebak di mana akan jatuh. Yang terlihat hanya gundukkan hitam yang ternyata adalah hutan belantara dengan pepohonan menjulang tinggi bagaikan raksasa. Sampai di sini, malapetaka langsung menimpa mereka.

Hampir semuanya mendarat di puncak-puncak pohon yang tingginya sekitar 50 m. Situasi ini sedikit menguntungkan bagi yang membawa beban ekstra berat, seperti pembawa radio. Karena jika langsung mendarat di tanah, kemungkinan cedera sangat tinggi.

Dropping zone ini mereka ketahui sebagai wilayah Kampung Urere yang alias Pasir Putih. Karena jatuh di atas pohon, banyak di antara anggota mengalami cedera.

Seperti KU I Sahudi, payungnya berhenti di antara dua pohon sehingga ia tergantung-gantung seperti buah mangga. Tidak mau hilang akal, Sahudi berusaha mengulur tali yang dibawa agar bisa turun. Rupanya tali yang dibawa sepanjang 30 meter itu tidak menyentuh permukaan tanah.

Dia pun memutuskan menjatuhkan ransel perbekalan agar bisa mengira-ngira ketinggiannya. Cukup lama sebelum bunyi benda jatuh di tanah bisa didengarnya.

“Pohonnya tinggi sekali,” kenang Sahudi.

Hari sudah mulai siang dan badan pun mulai letih karena tidak makan. Tidak mau mati konyol di atas pohon, Sahudi mulai mengayunkan payung agar bisa meraih dahan terdekat. Berkali-kali ia coba namun sebanyak itu pula ia gagal. Tanpa disadarinya, karena terus bergoyang, payungnya mulai merosot dari pohon. Sampai akhirnya lepas dan Sahudi pun terpental ke pohon sebelum terhempas di tanah dengan punggung jatuh lebih dulu.

Ia merasakan sakit tak terperikan di punggung, membuatnya nyaris tidak bisa bergerak. Baru kemudian ia sadari bahwa tulang punggungnya patah!

Tak jauh dari tempatnya jatuh, ia melihat rekannya KU I J. Dompas yang terluka dan Pratu Margono dari RPKAD mengalami patah kaki. Mereka bermalam di situ selama beberapa hari, dan mendapat bantuan dari penduduk setempat.

Siang itu Belanda mulai mencium kehadiran pasukan gabungan. Gara-garanya setelah pesawat Belanda yang melintas, pilotnya melihat parasut bertaburan di puncak-puncak pohon.

Karena itu Belanda pun mengirim sejumlah polisi yang umumnya direkrut dari putra asli Irian untuk mengecek kebenarannya. Untunglah ada penduduk berbaik hati mengabarkan bahwa ada polisi datang.

“Tuan besar datang, tuan besar datang,” kata mereka. Malam itu juga Sahudi dan kedua rekannya meninggalkan kampung kecil itu. Karena sedang sakit, Margono hanya bisa merangkak, sementara Sahudi tertatih-tatih.

Seperti yang lainnya, Godipun juga tersangkut di sebuah dahan. Malang baginya karena ransel peluru dan granatnya lolos ke bawah. Menggunakan tali, Godipun mencoba turun ke bawah. Namun dahan tempatnya bergantung tiba-tiba patah, sehingga ia jatuh di pinggir kali berlumpur.

Untung lumpurnya cukup dalam, sehingga menjadi seperti matras. Hampir seluruh kakinya tertanam di lumpur. Setelah berhasil keluar, ia mendengar suara pluit di ketinggian, yang ketika dilihatnya berasal dari Sarjono.

Temannya ini tidak bisa turun karena sudah lemas. Oleh Godipun ditolong turun. Dia kembali naik karena ransel dan perbekalan temannya masih tersangkut di ranting.

Pada hari ketiga setelah bertemu teman-teman yang lain, yaitu Sahudi, KU I Fortianus, KU I Dompas, KU II Jhon Saleky, KU II Aipassa, dan tiga orang lagi yang namanya tidak diketahui.

Dua orang yang mengalami patah kaki, terpaksa dititipkan kepada penduduk di sekitar dropping zone. Keluarga ini awalnya menerima dan bersikap baik, namun ternyata mereka sudah dibina oleh Belanda. Sehingga kedua anggota yang patah kaki tadi diserahkan kepada Belanda.

Komandan tim Lettu Heru Sisnodo memutuskan, KU I Sahudi dan Pratu Margono yang tengah sakit parah ditinggal di tempat karena akan mengganggu gerakan pasukan.
Pasukan ini mengalami kontak senjata dengan Belanda sewaktu memotong sagu. Dalam kontak ini pasukan PGT tercerai-berai karena kekuatan tidak seimbang, disamping fisik mereka sudah lemah. Setelah tembakan berhenti, Heru memerintahkan Godipun membantu rekan-rekan yang lain.
“Saya pergi dan menemukan bekas tempat mereka memasak sagu,” ujar Godipun. Besoknya Belanda kembali datang, dan kembali terjadi kontak tembak, namun tidak ada yang terluka.

Dalam kontak tembak ini KU I Fortianus tertembak di dada dan tewas di tempat, sedangkan Pratu Suyono dari RPKAD berhasil meloloskan diri dan akhirnya bertemu dua orang yang ditinggal karena cedera yaitu KU I Sahudi dan Pratu Margono.

Pada 18 Juli, dua orang yang cedera ini ditambah Pratu Suyono tertangkap Polisi Belanda di bawah pimpinan Letnan Pol Ayal (asal Ambon) dan wakilnya Torar (asal Manado).
Pada suatu hari, Godipun disuruh menebang pohon pisang yang agak jauh dari induk pasukan. Begitu kembali, ia sudah tidak menemukan rekan-rekannya, pergi entah kemana.
Dia berusaha menyusul. Sial baginya, di perjalanan ia disergap Belanda. “Angkat tangan, lempar senjata!” Salah seorang berteriak ke arahnya. Godipun langsung tiarap dan merayap menjauh. Karena tidak kunjung keluar, tembakan gencar pun diarahkan ke persembunyiannya.

“Saya betul-betul disiram,” kenang Godipun. Sebuah timah panas akhirnya mendarat di pundaknya. Sakit sekali, sampai-sampai rasanya mau nangis. Pundak kirinya hancur dan tulang belikatnya mencelat keluar.

Nyaris sudah pasrah karena kondisinya cukup parah, Godipun masih berusaha untuk tidak tertangkap. Dia bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Belanda tidak berhasil menemukannya sampai akhirnya pergi. Tak lama kemudian, Godipun berusaha keluar. Rasanya, tangan kirinya sudah tidak ada, kalau pun masih ada sudah tidak bisa digerakkan. Sambil menahan sakit, Godipun terus berjalan sampai menemukan teman-temannya. Ia lalu mendapat pengobatan dari orang kesehatan RPKAD, Komaruddin.

Besok paginya Heru menawarkan Godipun untuk menyerahkan diri. Dipikirnya dengan menyerahkan diri, anak buahnya ini akan mendapatkan pengobatan dari dokter Belanda.

“Komandan, kalau saya mau menyerah sudah dari tadi, sumpah prajurit tidak boleh menyerah,” jawab Godipun tegas dengan nada tersinggung.

Penangkapan ketiga orang ini akibat ulah penduduk yang kelihatannya cukup baik, namun sebenarnya kaki tangan Belanda. Pasukan yang dapat lolos setelah kontak senjata dengan Belanda kemudian bergerilya dan bertahan dalam alam yang ganas selama tiga bulan.

Pasukan ini dibekali sejumlah mata uang gulden Papua. Cara mendekati sasaran dengan mengikuti jejak pasukan Belanda dan menggunakan penduduk setempat sebagai penunjuk jalan, tetapi apabila terjadi kontak senjata penduduk itu melarikan diri.

Dalam perjalanan terjadi beberapa kali kontak senjata. Yang gugur ditinggalkan dengan diberi tanda sedangkan senjatanya disembunyikan.

Makanan memang sulit didapat, kalau kebetulan menjumpai tanaman rakyat seperti talas atau pisang, terpaksa dimakan dan sebagai gantinya ditinggalkan uang gulden untuk pembayaran.

Dalam perjalanan ini mereka bertemu salah seorang anggota Banteng Raiders yang lepas dari induk pasukannya.
Jarak antara kampung Pasir Putih dan Kaimana sekitar 20 km, tetapi ada jalan pintas melalui jalan setapak. Karena itu usaha Belanda mencegat para gerilyawan dilakukan melalui laut dari Kaimana dan pada tempat-tempat tertentu pasukan diturunkan ke darat untuk mengadakan patroli.

Semakin dekat ke Kaimana semakin sering terjadi kontak senjata. Perkampungan penduduk di sekitar Kaimana telah dijaga ketat pasukan Belanda dan mata-matanya.
Kekurangan makanan menyebabkan kondisi fisik pasukanmenjadi lemah, gerakan menjadi lamban dan akhirnya upaya pengamanan kurang diperhatikan.

Keadaan medan dan perlawanan Belanda sebenarnya tidak berat, yang berat justru sulitnya mendapatkan makanan. Dalam suatu kontak senjata dengan musuh, Prada Surip bersama tiga temannya terpisah.

Ia bersama tiga temannya yaitu Sabaruddin, Ijang Supardi dan Aipasa (PGT) berusaha mendekati sebuah perkampungan. Rupanya kedatangan mereka telah ditunggu Belanda, sehingga terjadi kontak.

Kelompok yang semula empat orang ini terpecah lagi. Akhirnya Prada Surip tinggal sendirian. Pasukan Belanda terus melakukan pengejaran. Karena kondisi sangat lemah, akhirnya mereka tertangkap.

Anggota pasukan lain di bawah pimpinan Heru Sisnodo, sampai terjadinya gencatan senjata terus melakukan gerilya di sekitar Kaimana. Berita gencatan senjata baru mereka terima melalui pamflet yang dijatuhkan dari udara, yang itupun mereka duga hanya tipu muslihat Belanda.
Letda Czi Moertedjo dengan tiga pengikut menjelang mendekati Kaimana, terjebak oleh pasukan Belanda. Dalam kondisi kurang makan berhadapan dengan kekuatan Belanda yang lebih besar akhirnya mereka tertangkap.
Sepertinya saat melaksanakan gerilya di sekitar Kaimana, Jhon Saleky bersama Heru Sisnodo bertemu dengan kelompok perlawanan anti-Belanda dipimpin Mayor (Tituler) Lodewijk Mandatjan.

Dalam sejarah perjuangan Trikora, kelompok Mandatjan dikenal sebagai penentang Belanda yang kemudian memilih masuk hutan untuk melaksanakan perang gerilya terhadap Belanda. Karena melihat anggota APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) di tengah hutan, Mandatjan kemudian mengajak mereka bergabung.

Godipun sendiri tertangkap tanggal 7 Juni. Saat tertangkap, ia dalam pelarian seorang diri setelah kelompoknya terpecah karena diserang Belanda.

Tanpa senjata karena disimpan di dalam hutan setelah bahunya tertembak, Godipun berjalan hingga tiba di sebuah pantai di Kampung Sisir. Ia pun lupa membawa bungkusan yang isinya kitab suci dan tertinggal di hutan.

Di sini jejaknya tersendus anjing pelacak Belanda. Beberapa orang penduduk lokal mengejarnya dari belakang sambil mengacungkan golok dan tombak. Dia mencoba untuk lari, namun dicegah oleh sebuah teriakan keras, Berhentiiiiiiiii! “Saya balik kanan, saya pikir akan digorok, tapi rupanya mereka tercekat melihat saya.”

Kalung Rosario yang tersembul dari balik bajunya mengagetkan para pemburunya. “Kamu agama apa,” tanya mereka yang dijawab singkat, “Katolik.” Yang bertanya malah tidak percaya dan marah sambil berujar, “Bohong kamu, kamu babi Soekarno, bikin rusak tanah saya. Kamu mau hidup atau mau mati.”

Akhirnya Godipun dibawa ke sebuah rumah panggung di pinggir pantai. Di situ ia melihat cukup banyak kuburan yang masih baru. Apakah ada temannya yang dimakamkan di situ? Godipun hanya mengernyitkan dahinya.

Dia ditanya macam-macam, seperti siapa komandannya, di mana dia, di mana teman-teman. Karena memang tersasar, ia tidak bisa memberikan jawaban.

Setelah mendapat havermut (oatmeal), minum, dan sebatang rokok, siang itu ia dibawa ke rumah sakit untuk diobati. Suatu hari di penjara, ia didatangi seorang pastor Belanda berjubah putih yang menawarkan sakramen pengakuan dosa. Ia diajak ke ruangan komandan polisi untuk melaksanakan pengakuan dosa.

“Oleh pastor didoakan supaya Belanda dan Indonesia cepat damai dan saya cepat dipulangkan.” Kemudian diketahuinya nama pastor itu Van Manen. Saat kembali ke kamar tahanan, ia melihat di sebuah meja sebuah bungkusan yang ia sangat kenal. “Saya bilang ini punya saya, puji tuhan,” ujarnya. 

Rupanya bungkusan itu berisi kitab Taurat dan Injil.
Setelah di penjara sekian lama, suatu hari mereka dibawa dengan pesawat Dakota ke Biak. Dengan mata ditutup, mereka dituntun ke dalam pesawat yang ternyata di dalamnya sudah banyak wartawan asing.
Mencermati penuturan ini, sepertinya peristiwanya berlangsung setelah cease fire. Mereka pun difoto oleh sejumlah wartawan. Di penjara Biak, Godipun bertemu Sarjono yang pernah ia turunkan pakai tali.

Kenangan pahitnya bersama Sarjono adalah, ketika temannya ini memutuskan merebus sepatu karena sangat kelaparan. Dari Biak mereka dipindah ke penjara Wundi. Pada bulan September mereka disuruh siap-siap naik kapal untuk dibawa kembali ke Biak.

Di sini sudah menunggu Hercules milik UNTEA yang akan menerbangkan mereka ke Kemayoran, Jakarta.
Di akhir Operasi Banteng Ketaton di Kaimana diketahui bahwa PGT telah kehilangan sejumlah anggotanya. Mereka yang gugur adalah KU I Fortianus dan KU II Gintoro. Sementara yang terluka tembak adalah KU I Sahudi yang terluka saat terjun dan PU I G. Godipun.

Adapun yang gugur di Fak-Fak adalah SMU Picaulima, KU I Atjim Sunahju, KU I Sariin bin Djafar, PU I Lestari, dan PU I Suwito. Dua orang yaitu KU I S. Bomba dan PU I Pardjo hanya mengalami luka ringan.

Baca Selengkapnya ....

Petualangan"Idjon Djanbi". Mantan Sopir RATU BELANDA yang Menjadi BAPAK KOPASSUS!

Posted by yusuf Selasa, 14 Maret 2017 0 komentar
KOMANDO Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD saat ini jadi salah satu pasukan elite negara kita yang paling dibanggakan. Di level dunia, Kopassus pun jadi salah satu pasukan komando terbaik.

Tapi siapa sangka ternyata “Bapak Kopassus-nya” sendiri asalnya dari Belanda. Tidak hanya tentara, tapi juga anak petani Bunga Tulip yang sempat jadi sopir Ratu Belanda, Wilhelmina di masa Perang Dunia II.

Namanya Rokus Bernardus Visser. Kita selama ini mengenalnya sebagai Mochammad Idjon Djanbi. Lahir pada 13 Mei 1914, Visser muda “terdampar” di London, Inggris akibat pecah Perang Dunia II.

Kala itu, Visser muda berada di Inggris dalam rangka membantu ayahnya jadi pedagang bola lampu. Visser lantas memilih masih kedinasan tentara Belanda dalam pengungsian di Inggris, pasca-negerinya dikuasai Jerman.

Tapi setelah masuk dinas tentara, Visser ternyata hanya jadi sopir. Ya, sopirnya Ratu Wilhelmina yang juga mengungsi ke Inggris dan tugas ini hanya dilaluinya setahun.

Sempat keluar ketentaraan, Visser masuk lagi dan bergabung ke Pasukan Belanda ke-2 sebagai operator radio. Di pasukan ini, Visser akhirnya ikut merasakan yang namanya pertempuran di PD II dengan ikut Operasi Market Garden, pendaratan sekutu dengan terjun payung di Arnhem pada September 1944.

Karier militer Visser lumayan pesat dan sempat digembleng lagi di Sekolah Pasukan Para di India. Pengalamannya yang lumayan banyak untuk ukuran prajurit Belanda kala itu, membuatnya dipercaya mendirikan School voor Opleiding van Parachutisten di Hollandia (kini, Jayapura) dengan pangkat letnan pada 1946.

Visser juga sempat mudik pada 1947 ke Belanda dan tak lama kemudian bercerai dengan istrinya, lantaran ‘ogah’ diajak ke Hindia Belanda (kini Indonesia). Sekembalinya ke Hindia Belanda, Visser dipromosikan jadi kapten, untuk menjabat pelatih kepala hingga 1949.

Pasca-penyerahan atau pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) dari Kerajaan Belanda, Visser pensiun dan memilih jadi petani di Lembang, Bandung dengan istri barunya asal Sunda. Namun kehidupan sunyi sebagai petani itu hanya dialami Visser yang sudah jadi mualaf dan berganti nama jadi Mochammad Idjon Djanbi, selama dua tahun.

Pasalnya pada 1951, datang seorang kenalannya, Letda Sugianto yang ternyata jadi ajudan Kolonel Alexander Evert Kawilarang, Panglima Komando Tentara Teritorioum III/Siliwangi. Sugianto ingin meminta jasa Idjon Djanbi di TNI.

Pasalnya kala itu, Kawilarang berkeinginan penuh mewujudkan harapan salah satu koleganya yang tewas dalam pemberantasan Republik Maluku Selatan, Kolonel Ignatius Slamet Rijadi, untuk membentuk pasukan khusus dengan kualifikasi para-komando.

Sayangnya saat itu, TNI belum punya perwira yang bisa mencetak sendiri para prajurit-prajurit macam itu. Maka setelah mendapat info tentang Idjon Djanbi, dimintalah dia untuk melatih para prajurit Kesatuan Komando Tentara Teritorium (Kesko TT-III) Siliwangi di Batujajar, Jawa Barat.

Unit inilah yang kemudian jadi cikal-bakal Kopassus TNI AD. Unit itu dilatih Idjon Djanbi setelah pengangkatan resmi Menteri Pertahanan RI kala itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, di mana Djanbi dianugerahi pangkat mayor.

Jadilah Mayor Mochammad Idjon Djanbi jadi komandan “Kopassus” pertama yang saat itu masih bernama Kesko TT III/Siliwangi. Unit ini kemudian berubah jadi RPKAD (Resimen Para-Komando Angkatan Darat), Puspassus AD (Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat), Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha) dan kemudian Kopassus TNI AD.

Saat tengah “panas-panasnya” nasionalisasi sejumlah perusahaan asing pada 1956, muncul inisiatif Mabes AD untuk mengalihkan tampuk komando unit khusus itu ke perwira pribumi. Djanbi pun ditawari jabatan lain yang kemudian lebih pilih pensiun.

Pangkatnya dinaikkan saat RPKAD tengah berulang tahun pada 1969 dari mayor menjadi letnan kolonel. Lantas pada suatu pagi pada 1 April 1977, Idjon Djanbi mangkat akibat penyakit usus buntu dan usus besar, hingga dimakamkan di TPU Kuncen, Yogyakarta.

Baca Selengkapnya ....
Template by Cara Membuat Email | Copyright of Cari Cara.