WOOWW...Mirip Barbie, Wanita Ini Viral di Instagram

Posted by yusuf Selasa, 04 April 2017 0 komentar


Beberapa wanita rela menghabiskan banyak uang untuk operasi plastik agar memiliki tampilan seperti Barbie. Bahkan, ada yang mengubah semua lekuk tubuh hingga wajahnya untuk terlihat seperti boneka ikonik tersebut. Lalu bagaimana dengan wanita yang memang sudah terlahir mirip Barbie?

Seperti wanita cantik yang kini menjadi viral karena memiliki tampilan layaknya Barbie. Dia adalah Julia Kriger asal Novosibirsk, Rusia. Ia mempunyai struktur wajah mirip Barbie yang tampak mungil dengan bentuk mata indah. 

Julia mengaku kalau ia tidak melakukan operasi plastik pada wajahnya. Wanita berambut pirang tersebut juga tidak menggunakan lensa kontak dalam kesehariannya. Mata biru Julia memang alami. Ia pun mengklaim kalau dirinya juga tidak terlalu bermain dengan riasan wajah. Semua berjalan alami.
baca juga : Dahsyat!! Jerman akan jadi Negara Berpenduduk Muslim Terbesar di Eropa
Julia kemudian sedikit bercerita banyak orang di sekitar yang menyebutnya mirip Barbie. Meski demikian, ia tidak berencana untuk membuat penampilan agar benar-benar mirip boneka plastik favorit anak perempuan tersebut.

"Pertamakali aku dibandingkan dengan Barbie saat masih sekolah. Aku tidak terkejut karena artinya aku memiliki tampilan yang rapi dan bentuk wajah simetris," tutur wanita dengan pengikut Instagram lebih dari 17 ribu itu.Julia pun mengklaim bahwa ia tidak menjalani pembedahan agar memiliki tubuh kurus. Bentuk tubuhnya memang seperti itu sejak lahir. Namun ia pun mengaku menambahkan implan untuk memperbesar payudaranya.

Ya, Julia menginginkan payudara lebih besar seukuran cup bra yang D. Hanya itu yang pernah dilakukannya. Sementara untuk matanya, banyak yang mengira ia melakukan operasi atau memakai lensa kontak namun sebenarnya tidak.
baca juga :Ngeri....Kisah Perwira AURI Taklukkan Ribuan Tentara Ghaib di Pedalaman Jawa

Julia mengatakan ia pernah menggunakan lensa kontak khusus sekitar lima tahun lalu untuk membuat bola matanya lebih besar. Namun hal tersebut hanya berlangsung selama kurang lebih satu tahun dan ia tidak memakainya lagi. Ia pun menuturkan kalau warna bola matanya bisa berubah-ubah menyesuaikan cuaca.

"Aku tidak mengerti kenapa semua orang berbicara tentang mataku. Aku memang pernah memakai lensa kontak tapi sekarang aku malu kalau memikirkannya lagi. Soal warna bola mataku memang tidak biasa, bisa berubah sesuai cuaca. Bisa menjadi hijau, biru, atau abu-abu," tambahnya.

Baca Selengkapnya ....

Polisi Lampung Tembak dan Berfoto dengan Lima Mayat Begal, Begini Alasan Mereka

Posted by yusuf 0 komentar



Jagat media sosial Facebook belakangan dibuat geger dengan beredarnya foto anggota polisi yang berpose di antara jejeran mayat begal yang diburu oleh tim Tekab 308 Polresta Bandar Lampung, Sabtu (1/4/2017)

Lima begal tersebut berusia 17 dan 20 tahun. Mereka adalah residivis dan DPO yang beroperasi lebih dari 30 titik di wilayah hukum Bandar Lampung.
Kapolresta Bandar Lampung Kombes Murbani Budi Putono pada ekspose, mengatakan, penembakan pada pelaku begal dilakukan karena adanya perlawanan sehingga anggota terpaksa bertindak tegas.
baca juga : Antara LUCU dan HARU.! Kisah KOPASSUS Tidak Pernah Merasakan Pesawat Mendarat!
Foto tersebut mendapat tanggapan netizen. ada yang mendukung upaya polisi dalam memberantas begal ada pula yang menyoroti tindakan tersebut tidak manusiawi.
Sehari setelah foto tersebut ramai di Facebook, foto yang beredar itu sudah tidak lagi ditemukan di laman akun sosial netizen.

Tim Paminal Mabes Polri diturunkan ke Polresta Bandar Lampung, untuk menyelidikinya dipimpin Kepala Biro Paminal Polri Brigadir Jenderal Baharudin Djafar, Senin (3/4/2017) .
Pemeriksaan ini dibenarkan Kapolda Lampung Inspektur Jenderal Sudjarno.
“Ya ada tim paminal Mabes Polri datang untuk memeriksa anggota Tekab 308,” ujar Sudjarno di Polresta Bandar Lampung.

Menurut dia, tim turun berhubungan dengan beredarnya foto Tekab 308 bersama lima mayat tersangka begal asal Lampung Timur di media sosial.
Di dalam foto tersebut, terlihat anggota Tekab 308 yang dipimpin Kepala Satuan Reserse Kriminal Komisaris Deden Heksaputera berpose mengepalkan tangan yang di bawahnya tergeletak lima mayat tersangka begal.
Sudjarno menerangkan, Paminal menganggap konten foto tersebut ada pelanggaran kode etik.
“Pose di dalam foto itu tidak etis makanya tim turun memeriksa semua orang yang ada di dalam foto tersebut,” ucap mantan Wakapolda Metro Jaya ini.
Sudjarno sendiri tidak tahu sampai kapan Tim Paminal Mabes Polri akan melakukan pemeriksaan.
Mengenai tersebarnya foto itu di media sosial, Sudjarno mengatakan, tim juga akan menelusuri hal tersebut. (Wakos Reza Gautama)

Baca Selengkapnya ....

FAKTA SEJARAH........Ternyata R.A Kartini Pernah Kepincut dengan Agus Salim Muda

Posted by yusuf Senin, 03 April 2017 0 komentar


AGUS Salim muda pernah membuat Raden Ajeng Kartini kepincut. Anak pintar yang sebelum masuk ke gelanggang politik, lama jadi wartawan.

Di balik sumbangan besar pemikiran Haji Agus Salim untuk bangsa Indonesia, ada kecerdasannya yang luar biasa. Mohammad Natsir menyebut, kalau hendak menggunakan kualifikasi intelektual brilian pada salah satu putra Indonesia, maka yang paling pertama tepat ialah pada Haji Agus Salim.

Lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat pada 8 Oktober 1884 dengan nama Mashudul Haq, sohor di rantau dengan nama Haji Agus Salim. Pada tahun 1891, ketika usia Agus Salim menginjak tujuh tahun, dimasukinya sekolah dasar Belanda, yaitu ELS (Europeesche Lagere Scholl) di Bukittinggi. Ketika Agus Salim duduk di bangku ELS, kecerdasan otaknya telah menarik perhatian guru-gurunya orang Belanda, rasa simpati mereka terlihat dengan permintaan ingin membina dan mengarahkan Agus Salim sepenuhnya baik di sekolah maupun di rumahnya.

Namun permintaan tersebut ditolak oleh kedua orang tua Agus Salim. Hanya diizinkannya ketika saatnya makan pagi, siang dan malam, ditambah waktu sesudahnya, boleh tinggal di rumah orang tuanya.

Pada usia 13 tahun, sesudah tamat dari ELS dengan gemilang (1898), Agus Salim berangkat menuju Jakarta melanjutkan sekolahnya. Dengan kapal laut ditinggalkannya kampung halaman, ayah ibunya, dan sanak familinya pergi merantau ke daerah seberang. Selanjutnya dimasukinya HBS (Hoger Burgelijke School),yaitu sekolah menengah Belanda di Jakarta.

Dalam tempo lima tahun, Agus salim selesai dan berhasil menempuh ujian di HBS (1903) dengan nilai terbaik sekaligus menjadi juara. Dia adalah siswa terbaik dari tiga HBS di Hindia Belanda ketika itu. 

Saat itu dapat dikatakan hampir tidak ada anak pribumi yang duduk di bangku HBS, terkecuali dari Agus Salim dan P.A.Hoesein Djajaningrat (Doktor pertama di Indonesia), dan yang lain anak-anak bangsa Eropa. Kecerdasan otaknya yang luar biasa diakui oleh gurunya yang juga oleh sarjana-sarjana Belanda. Bahkan menurut ramalan-ramalan gurunya, kelak kemudian hari Agus Salim menjadi orang penting bagi bangsanya.

Sepucuk Surat Kartini

Saat berusia 19 tahun, namanya sudah disebut-sebut. Kecerdasannya membuat Raden Ajeng Kartini kepincut.

“Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda. Kami ingin melihat dia dikarunia bahagia. Anak muda itu namanya Salim,” tulis Kartini dalam sepucuk surat kepada Ny. Abendanon, 24 Juli 1903, termuat dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Agus Salim, lanjut Kartini, “dalam tahun ini (1903–red), mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS!”

HBS singkatan dari Hogere Burger School, sekolah menengah atas lima tahun. Ketiga-tiga HBS yang dimaksud Kartini; Jakarta, Semarang dan Surabaya.

“Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya tidak memungkinkan,” sambung Kartini.

Lulusan terbaik  (HBS) 1903 itu bukan tak berusaha. Pernah mengajukan beasiswa, namun ditolak.

Kartini mengalihkan beasiswa

Kartini mengalihkan beasiswa ke Belanda yang didapatnya dari pemerintah kepada Agus Salim. Pemerintah setuju. Tapi, pemuda yang pandai berbahasa Belanda, Inggris, Arab, Turki, Prancis, Jepang dan Jerman itu menolak.

Rupanya, Agus Salim menganggap cara yang demikian itu adalah penghinaan terhadap dirinya. Akhirnya tawaran itupun ditampiknya seraya mengatakan: "Kalau pemerintah mengirim saya karena anjuran kartini, bukan karena kemauan pemerintah sendiri, lebih baik tidak," dikutip dari buku Tokoh-tokoh Pemikir Paham Kebangsaan. Sejak peristiwa itu, diputuskannya minat untuk tidak melanjutkan sekolah.

Baik Kartini, pun Agus Salim sama-sama tak berangkat ke Belanda. Raden Ajeng kita menikah dan menetap di Jawa lantaran perjodohan yang diatur orang tuanya.

Agus Salim berangkat ke Arab, kerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda, sembari berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, imam besar Masjidil Haram–guru Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Hasyim Asyari (pendiri NU).

Pada 1912 dia pulang kampung ke Koto Gadang. Sempat mendirikan sekolah, tiga tahun kemudian merantau lagi ke Jawa dan memulai karir di bidang jurnalistik.

Wartawan Pergerakan

“Agus Salim diangkat sebagai pemimpin redaksi bahasa Melayu pada Commissie voor de Volkslectuur yang kelak berkembang menjadi Balai Pustaka,” tulis St. Sularto, dalam buku biografi Agus Salim.

Ajip Rosidi dalam Penerbitan Buku Bacaan dan Buku Sastra di Indonesia, termuat dalam Prisma, No. 4, Thn. VII, 1979 menulis, nama lembaga itu dirubah jadi Balai Pustaka atas usul Haji Agus Salim yang bekerja di sana sejak 1917 hingga 1919.

Di samping Balai Pustaka, lelaki yang di kemudian hari mejadi pimpinan Sarekat Islam (SI) itu juga bekerja sebagai redaktur surat kabar Bendera Islam dan redaktur Bataviaasch Niewsblad.

Saat aktif di Sarekat Islam, dia mendirikan dan “menjadi pemimpin redaksi surat kabar Hindia Baroe (Jakarta) dan Fadjar Asia (Yogyakarta) yang didirikannya bulan November 1927 bersama HOS Tjokroaminoto,” tulis St. Sularto.

Agus Salim memainkan perang sebagai juru runding ketika Republik Indonesia baru merdeka. Dia dijuluki diplomat ulung.

Baca Selengkapnya ....

Yang Chil Sung.....Pahlawan Kemerdekaan RI asal Korea yang Gugur dalam Terjangan Peluru Penjajah..Permintaan Terakhirnya Bikin Merinding......

Posted by yusuf 0 komentar


SUNGGUH tak banyak lagi diingat orang. Peristiwa tragis seakan harus membatas kehidupan Yang Chil Sung di tegalan “Kherkoff” (“Gelora Merdeka”), Garut. Serdadu asal Korea yang dianggap sebagai tentara Jepang itu gugur, setelah dieksekusi Belanda, 10 Agustus 1949.

Akan tetapi, jasad Yang Chil Sung dibaringkan di balik bumi Taman Makam Pahlawan “Tenjolaya” Garut, dengan gelar kehormatan sebagai pahlawan kemerdekaan. Itu keunikan peristiwa kesejarahan. Seorang serdadu Korea, mendapat pengakuan pahlawan kemerdekaan negeri ini.

Kepergian Yang Chil Sung, lalu mengalirkan serpihan kenangan perjuangan yang amat dramatis. Tentu, karena pemerintah Belanda memvonis hukuman mati itu untuk tiga serdadu Jepang, yang berganti nama Indonesia. Mereka terdiri dari Komarudin, Abubakar, dan Usman. Ketiganya aktif membantu aksi gerilyawan kemerdekaan Indonesia.

Namun Komarudin alias Yanagawa Sichisci, diketahui kemudian bernama asli Yang Chil Sung, tentara dari Korea. Hanya Abubakar dan Usman, serdadu Jepang yang bernama asli Hasegawa dan Masashiro Aoki.

Mereka bersama Komarudin, bergabung ke dalam pasukan “Pangeran Papak” Markas Besar Gerilya Galunggung (MBGG) pimpinan Mayor Kosasih, yang bermarkas di Kecamatan Wanaraja, Garut. Dengan pasukan itu pula, mereka pernah ikut tempur dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Eksekusi di Lapang “Kherkoff”, menggores luka dalam hati para pejuang kemerdekaan di Garut. Terlebih bagi R Djuhana, Wakil Komandan Batalyon “Pangeran Papak”. Pejuang ini mengaku, seharusnya menjalani hukuman mati itu bersama mereka.

“Alhamdulillah saya selamat, karena saya bisa berbahasa Belanda! Saya melakukan pembelaan dan perlawanan dulu” tutur R. Djuhana dalam kenangan pertemuan di Ngamplang Garut, 19 Agustus 1995, di depan perwakilan warga Korea.

Saat itu, acara digelar selepas upacara kemiliteran untuk pergantian batu nisan Yang Chil Sung, yang dipimpin Kepala Staf Kodam III/Siliwangi Brigjen TNI Rachmat HS Mokoginta. Sejumlah kawan seperjuangan alm. Komarudin lainnya, seperti H Ajiji, Momod, E Sutisna, Uwe, Endi, Umung serta Sopian, menguatkan kesaksian tentang semangat perjuangan serdadu asal Korea itu. Komarudin pun berjasa, karena turut melatih para pejuang dalam pasukan itu.

Penuturan Kim Tay Wong, perwakilan warga Korea, menyebutkan, Yang Chil Sung pada 1942 bertugas sebagai penjaga tawanan perang tentara sekutu di Korea. Semasa Jepang menguasai Korea sejak 1908, warga Korea dipaksa berganti nama seperti orang Jepang. Lebih dari 1.000 warga Korea, termasuk Yang Ching Sung yang berganti nama Yanagawa Sichisci, dipaksa pula harus turut bertempur di Indonesia.

Namun, setelah Korea merdeka, Yang Chil Sung tak pernah kembali ke negerinya. Kabar yang terumbar kemudian, serdadu itu bermukim dan menikah dengan orang Indonesia. Walau begitu, semangat warga Korea dalam melacak jejak Yang Chil Sung, tak pernah memudar.

Kim pun mengakui, banyak kawan seperjuangan Yang Chil Sung dari pasukan “Pangeran Papak”, turut menyusuri keberadaan almarhum. Lalu, Ushumi Aiko mengungkap identitas pejuang itu di dalam buku Korean Activity under the Equator (1980).

Ternyata Yang Chil Sung diketahui mengamankan dirinya di balik nama Komarudin. Pejuang itu menolak dipulangkan ke negerinya, karena tidak mau menjadi tentara tawanan Jepang. Kesaksian R. Djuhana menuturkan, bahwa Komarudin datang ke Garut bersama tiga orang serdadu Jepang dari Bandung, yang berganti nama Abubakar, Ali, dan Usman – dokter di kalangan perwira Jepang.

Pasukan “Pangeran Papak” dan Hisbulloh pimpinan alm. KH Yusuf Taoziri yang kharismatik, membentengi perkotaan Garut dari serbuan Belanda.

“Setiap digempur musuh, pasukan kami tidak pernah tertangkap” kenang R Djuhana. Itu yang menyulut aksi Belanda mengerahkan kekuatan tempurnya hingga 4,5 batalyon, untuk menyerang pasukan Pangeran Papak yang hanya berkekuatan kurang dari satu batalyon. Pasukan gerilya pun terpaksa mundur.

Belanda menyebarkan mata-mata. Mereka mengintai pasukan gerilya itu, hingga Djuhana, Komarudin, Abubakar dan Usman tertangkap. “Saya masih ingat benar, waktu Komarudin ditawan Belanda itu lewat tengah malam, sekitar pukul 01.30” kata H Ajiji.

Dalam kesempatan terpisah, RS Harisenjaya yang pernah berdomisili di Kp Paminggir, dekat TPU Pasir Pogor Garut menuturkan, menjelang hukuman mati itu seorang petugas sipir dari rumah penjara Garut menjemput Lebe (penghulu).

Ketiga serdadu Jepang yang dijumpai Lebe selepas Maghrib itu, diketahui mengenakan kampret putih dan kain sarung Cap “Padi” warna merah buatan Preanger Bond Wevery (PBW), yang dikenal kemudian sebagai Pabrik Tenun Garut (PTG).

Dua warna dalam penampilan ketiga terhukum itu, seolah simbol bendera Merah Putih. Mereka menyampaikan permintaan terakhir, agar esok hari setelah hukuman mati, jenazah mereka dimakamkan secara Islam.

Putaran detik jelang hukuman mati digelar,seakan bergulir lebih cepat dan memanggang ketegangan para pejuang. Suasana itu berpuncak pada pagi Pkl 06.00, saat rentetan tembakan terdengar memecah kesepian dari arah Lapang “Kherkoff”, di seberang Sungai Cimanuk.

Warga Kampung Pasir Pogor, lalu melihat tiga keranda berisi jenazah, yang masih terbungkus kampret putih dan sarung merah Cap Padi. Keranda beriringan diusung ke masjid setempat.

Saat-saat eksekusi berlangsung, R. Djuhana mengaku tengah menjalani hukuman seumur hidup di LP Cipinang, Jakarta. Sebaliknya, Eddy Jawan anak tunggal Yang Chil Sung, karyawan MKL Jakarta, baru mengetahui nasib dan kepahlawanan ayahnya, setelah berumur 18 tahun.

“Waktu ayah saya ditembak mati, saya baru berumur satu tahun” kata Eddy Jawan, waktu menghadiri acara pergantian batu nisan almarhum ayahnya.

Usia 3 tahun, Eddy diantar Bik Koyoh yang merawatnya sejak kecil, ke lokasi makam Yang Chil Sung di TPU Pasir Pogor. Eddy mengaku tak pernah tahu lagi nasib Bik Koyoh, yang membesarkannya di Wanaraja, Garut, sampai usia 20 tahun.

Wanita itu pengganti figur ibunya, alm. Ny Lience Wenas, asal Sulawesi, yang menikah lagi di Bandung. Siapa sangka, jika drama kehidupan di balik kepahlawanan serdadu Korea itu, tergelar di tanah Garut.

Kejuangan alm. Komarudin alias Yang Chil Sung, Abubakar dan Usman dihargai sebagai pahlawan kemerdekaan Indonesia. Bukti atas penghargaan itu berupa pemindahan kerangka jenazah mereka dari TPU Pasir Pogor, ke TMP Tenjolaya,19 November 1975.

Kehormatan untuk kepahlawanan itu dikuatkan lagi dengan pergantian batu nisan, yang disaksikan Eddy Jawan, Choi Gye Wol (Pemimpin Kodeco Group), 20 anggota keluarga Yang Chil Sung dari Korea, dan staf Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia.

Kini, nama Yang Chil Sung terukir pada batu nisan Komarudin. Saat acara pergantian batu nisan, Panglima Kodam III/Siliwangi Mayjen TNI Tayo Tarmadi, dalam sambutan tertulisnya menilai, kejuangan Komarudin cermin bening dan realistis dalam menumpas penjajah dan penindasan, yang mampu melintas batas lautan.

Komarudin pantas mewarnai sejarah perjuangan kemerdekaan. Puncak pengorbanan serdadu Korea itu, tersimpan di dalam perut bumi Garut.

Sumber: Yoyo Dasriyo | fokusjabar.com 

Baca Selengkapnya ....

Kisah Haru......Kakek Pengayuh Becak Sholat di Emper Toko

Posted by yusuf 0 komentar



 Foto seorang kakek tukang becak yang sedang menjalan sholat di emperan toko menjadi perbincangan di media sosial. Foto yang diunggah Rizky Dwi Ratna Septinawati di akun Instagram, @erdhe_, membuat pengguna media sosial terharu.

Sebab, pengayuh becak yang belum diketahui namanya tersebut tetap menjalankan sholat dalam kondisi apapun. Petang itu, saat hujan mengguyur, sang kakek menyembah Tuhan, dan difoto oleh Rizky. Dia juga menulis kisah mengenai pengayuh becak tersebut.

Menurut Rizky, setiap malam pengayuh becak itu tinggal di emperan Toko Anugerah yang terletak di Jalan Pemuda, Gedongan, Megansari, Mojokerto, Jawa Timur. Ketika toko itu buka, si kakek akan kembali menggowes becak, mencari nafkah.

Ketika toko anugerah tutup beliau langsung disini tidur, makan, sholat dan lain-lain," ucap dia.
Kakek pengayuh becak, tulis Rizky, bukan asli Mojokerto. Dia kerap menjumpai si pengayuh becak tersebut lantaran toko tersebut berada tepat di depan sekolahnya, SMA 3 Mojokerto.
Unggahan di akun Instagram Rizky kembali diunggah oleh Tri Septian Indrianty di grup Facebook Ketimbang Ngemis Jakarta. Berbagai doa dan harapan pun tertuang di komentar para pengguna media sosial.

Sehat terus ya kek, semoga Allah selalu menjaga, melindungi kakek, dan melancarkan rezeki kakek," tulis pengguna Facebook, Isty Rachman.



Baca Selengkapnya ....

Menegangkan....Ditengah Badai Pasukan TNI AL (Denjaka) Nekad Beraksi....

Posted by yusuf Sabtu, 01 April 2017 0 komentar
Ilustrasi Badai di Tengah Laut


Pesawat AirAsia QZ 8501 jurusan Surabaya-Singapura jatuh di Selat Karimata pada Minggu (28/12/2015) lalu. Pesawat milik CEO Tony Fernandez menewaskan ratusan penumpang maupun awak di dalamnya.

Para penyelam gabungan TNI AL membuktikan kehebatannya dalam melaksanakan evakuasi jasad korban AirAsia. Mereka yang sudah terlatih berani mengambil resiko menyelam dengan cuaca ekstrem.
      Oleh sebab itu, Lieutenant Commander US Navy, Greg Adams, menganggap pasukan penyelam elit TNI Angkatan Laut telah melakukan hal yang 'gila'.
      Atas keberhasilan tim penyelam tersebut, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi memberikan penghargaan kepada prajurit TNI yang bertugas dalam operasi pesawat tersebut. Apalagi, katanya, banyak sekali aksi tim penyelam yang dilakukan di luar kebiasaan salah satunya bergantian tabung gas di bawah laut.
      "Jadi waktu itu ada prajurit tabung gas nol persen, cuma temannya bergantian. Sehingga mereka melakukan di luar kemampuan manusia," kata Ade Supandi.
       Sementara, salah satu penyelam Mayor Marinir Profs Dhegratmen membenarkan aksinya dalam melakukan penyelaman saling berbagai tabung gas oksigen. Pasalnya, tabung gas yang dibawa oleh penyelam melebihi batas waktu.

penyelam TNI AL


Berikut wawancara salah satu penyelam dari Denjaka Mayor Marinir Profs Dhegratmen kepada merdeka.com.
Bagaimana perasaan anda mendapatkan penghargaan?
      Ini sesuatu yang tidak kita duga ya karena ini perhatian dari sebuah pimpinan terhadap rekan-rekan penyelam yang kemarin ikut tim sar. Perhatian yang begitu besar dari bapak Kasal dan Panglima itu buat kita surprise sekali.
Di sana bapak berapa hari melakukan evakuasi?
      Tanggal 31 Desember 2014 sampai 28 Januari 2015. Jadi satu tahun lah. Hehehe
Kendalanya yang dihadapi saat menyelam apa saja?
      Kendala yang dihadapi tentunya cuaca kemarin kita sudah bersama-sama. Lalu tingginya ombak saat penyelaman jarak pandang dan arus diatas. sebenarnya kalau aturan menyelam itu kita tak boleh direkomendasikan. Tapi karena tugas kita hadapi saja.
Sebelumnya sudah mengalami kondisi alam seperti di Selat Karimata?
      Sepertinya ini termasuk salah satu perairan yang ekstrem ya, tinggi gelombang dan cuaca yang mendadak tidak terlalu lama dari tenang tiba-tiba ombak tinggi ombak bisa mencapai 3 sampai 6 meter. Di sana Panglima mengalami sendiri begitu beliau turun bagaimana kondisi di atas perahu karet tidak bisa melihat ke depan karena saking tingginya gelombang.
Perubahan cuaca bisa mencapai berapa menit sekali?
      Oh kita tidak bisa menjadwalkan karena Yang Mahakuasa yang bisa.

Lalu bagaimana anda menilai tanggapan dari tentara luar kalau penyelam kemarin itu 'gila'?
      Kita berani dan juga punya perhitungan. Kita tetap memperhitungkan prosedur dan SOP
Jadi penyelam sudah berapa lama?
      Saya mulai 2003 sampai sekarang, berarti sudah 12 tahun.
Kata Kasal penyelam di bawah laut tabungnya ganti-gantian sesama penyelam?
      Ya memang ini masuk prosedur jadi kalau 2 orang ada di kedalaman tertentu apabila satu orang mengalami kehabisan udara wajib melakukan buddy breathing. Buddy breathing itu melaksanakan joint optis untuk melaksanakan pernapasan di bawah air sudah prosedur. Kalau salah satu habis misalnya dengan anda gitu memberikan perhatian habis maka bergantian dan ada waktu melaksanakan pernapasan di bawah tapi dia setelah itu harus naik.
Waktu menyelam operasi pesawar AirAsia QZ-8501 ada kejadian yang unik tidak? Serta ada tidak kejadian aneh?
      Kalau saya pakai logika jadi tidak terlalu. Cuma logikanya itu saja kondisi arus kondisi gelombang termasuk kondisi matahari pada saat petang. Yang saya alami itu saat pengangkatan badan pesawat cuaca bagus, begitu naik sempat terputus tali. Habis itu gelap sekali di bawah. Nggak tahu itu fenomena apa.

Bagaimana anda menilai kondisi di bawah laut Selat Karimata?
      Kemarin sebagian ada yang berlumpur dan pasir.
Artinya kondisi dibawah laut keruh?
Air keruh kalau arus di bawah kuat. Kalau arus di bawah nol koma lima cenderung visibilty bisa melihat jarak jauh. Tapi jika di atas 2 knot atau lebih arus akan membawa partikel-partikel air dan lumpur yang di bawah akan terangkat. Itu yang membuat jarak pandang di bawah keruh.

Kondisi jenazah disana saat itu bagaimana? Apakah kondisi jenazah sudah rusak?

Kemarin kalau yang kita alami ada beberapa. Ya kita kan harus hati-hati saat menemukan jenazah banyak yang di atas atap pesawat. Apalagi ada yang sudah lepas dari sabuk pengaman. Jadi di atap body pesawat kita ambil bajunya kalau ambil tubuhnya langsung bisa rawan. Kondisi ada yang sebagian masih utuh karena benturan mungkin sudah patah tulang entah kaki atau tangan, sehingga diambil kondisi tidak utuh.

Waktu mengangkat jenazah takut?

Kita sebulan sekali juga melaksanakan seperti itu. Baik mengambil jenazah di kapal karam atau pesawat.

Sumber: merdeka.com

Baca Selengkapnya ....
Template by Cara Membuat Email | Copyright of Cari Cara.